Matius 22

Matius 22:10-14
Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Sekali lagi Tuhan Yesus memberitakan tentang kerajaan Allah dalam perumpamaan seorang raja yg melakukan perjamuan kawin buat anaknya dan mengundang para tamu undangan. Tetapi orang yang diundang ini malah nggak datang, sedih dong yah klu ngundang tapi orangnya malah nggak dateng.
Saat baca ini saya kembali terpikir akan orang-orang Israellah yang mendapat hak khusus menjadi tamu yang secara special diundang oleh raja yang punya acara.

Ketika mereka tidak menanggapi hak khusus tersebut, akhirnya merekapun menjadi tak layak lagi akan hak itu (ayat 8), sehingga hak itu dialihkan ke setiap orang. Termasuk saya juga yang bukanlah keturunan Israel ini.

Meskipun begitu di ayat 12, saya belajar klu sayapun tidak boleh masuk dengan begitu saja, saya harus mempersiapkan pakaian pesta, berpakaian sama seperti orang di dalam pesta itu, it means, berusaha membuat tuan rumah terkesan dengan kesiapan saya yaitu Tuhan.

Dari saat teduh ini saya belajar bahwa,

  1. Meskipun saya bukanlah keturuanan Israel, tapi sayapun akhirnya memperoleh hak yang sama untuk masuk ke kerajaan Allah.
  2. Untuk masuk ke sana, saya harus mempersiapkan diri dengan baik agar pakaian/cara hidup saya sama seperti orang-orang di dalam kerjaan Allah tersebut, yaitu berusaha hidup sama seperti Tuhan Yesus hidup yang adalah tuan rumah dari kerajaan Allah.
  3. Ke pesta aja malu jika tanpa pakaian pesta, apalagi ini ke Rumah Tuhan. Saya harus berusaha mempersiapkan diri menjadi murid pilihan, tidak hanya sebatas puas terpanggil jadi seorang murid.

Palopo, 23-05-2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.