1 Tawarikh 27

Something about number 24

1 Tawarikh 27:1
Adapun orang Israel, inilah daftar para kepala puak, para panglima pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pengatur yang melayani raja dalam segala hal mengenai rombongan orang-orang yang bertugas dan libur, bulan demi bulan, sepanjang tahun. Setiap rombongan berjumlah dua puluh empat ribu orang.

Saat membaca bagian ini, saya malah kepikiran satu hal, kenapa semuanya serba “24” , bahkan pada pasal- pasal sebelumnya juga menceritakan bagaimana pembagian tugas orang Lewi juga dibagi ke dalam 24 hari, bukannya sebulan itu 30 hari yah?

So akhirnya saya mencari arti angka 24 itu, ternyata itu bermula dari bilangan dimana di sana dijelaskan klu ada korban keselamatan dari 24 kambing jantan (pasal 7:88) dan juga ada kematian karena tulah sejumlah 24 ribu jiwa (pasal 25:9). Kemudian di Wahyu 4:4 juga dijelaskan klu ada 24 tahta tua-tua yang memakai pakaian putih dan mahkota emas dikepalanya. Dan itulah yg melambangkan pemerintahan yang sempurna alias simbol keimaman. Dan mungkin hal itu jugalah yang sedang Daud terapkan di pemerintahannya.

Itu sih yang bs saya dapatkan, mungkin bisa kasih masukan jika hal yang saya dapatkan ini keliru? Just for my curious 😅

Ok kembali kelaptop!
1 Tawarikh 27:23-24
Daud tidak menghitung jumlah orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke bawah, sebab TUHAN telah menjanjikan untuk membuat orang Israel sebanyak bintang-bintang di langit. Memang Yoab, anak Zeruya, telah mulai menghitung, tetapi ia tidak menyelesaikannya, sebab oleh karena hal itu orang Israel tertimpa murka; dengan demikian jumlah mereka tidak dibukukan dalam kitab sejarah raja Daud.

Ini yang jadi salah satu alasan knp Tuhan sampai murka atas Israel di pasal 21 karena Daud menjadi lupa akan janji Tuhan (entah lupa atau ragu) sampai ia bisa digoda oleh kesombongannya dan malah menghitung jumlah bangsa Israel.
Akhirnya kali ini Daud melakukannya dengan benar.
Padahal sama-sama menghitung, yg membedakan adalah motivasi yang Daud miliki kemarin dengan hari ini, yg sebelumnya karena ingin melihat kekuatan bangsa ini sebagai hasil jasanya, sedangkan yg terjadi pada waktu ini adalah ia sedang menghitung orang-orang yang Tuhan sediakan untuk pekerjaan di rumah Tuhan dan pemerintahannya.

Dari saat teduh saya hari ini saya belajar :

  1. Jangan sampai lupa akan janji Tuhan apalagi ragu, karena itu bisa membuat sifat kedagingan saya keluar dan melihat hasil yang saya peroleh sampai hari ini, itu semua karena saya, bukan karena Tuhan yang sedang memproses janjiNya terjadi dalam hidup saya.
  2. Belajar dari pengalaman/kesalahan saya di masa lalu untuk tidak mengulangi hal yang bisa buat Tuhan tidak berkenan atas hidup saya, klu bisa malah saya harus belajar dari kesalahan orang lain. Saat ini saya belajar dari kesalahan Daud tentang kesombongannya, dan
  3. Saya harus belajar tegas untuk lakukan kebenaran di tempat saya bekerja walau itu perintah langsung dari atasan saya jika itu salah saya tidak boleh lakukan secara total, tanpa alasan pembenaran. Tidak seperti Yoab, yg walaupun sadar itu salah tapi tetap menjalankannya krn takut, mungkin dengan pembenaran klu dia tidak hitung semuanya.

Palopo, 06 Februari 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.