Matius 10

Firman Tuhan kali ini menjelaskan pesan/perintah Tuhan Yesus kepada kedua belas murid-Nya sebelum mereka diutus/berpisah dengan Tuhan Yesus. Dan hal inipulalah yang berlaku buat saya untuk lakukan sebagai seorang murid Tuhan, bukan hanya buat murid-murid waktu Tuhan Yesus masih di dunia.

Matius 10:5-6
Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.

Awalnya sempat bertanya kenapa Tuhan membatasi ruang lingkup kemana murid2nya harus melenyapkan penyakit, kenapa tidak ke Samaria?
Pas baca beberapa penjelasan, saya baru mengerti klu ayat ini sementara menjelaskan karakter Tuhan sebagai seorang komandan tempur yang bijaksana dan penuh perhitungan. Tuhan tau kapasitas murid2nya seperti apa, sehingga Ia membuat batasan agar murid-muridNya ini bisa fokus kepada hal-hal yang harus mereka kerjakan.

Matius 10:9-10
Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.

Saat saya melakukan perjalanan, kenapa saya bawa perbekalan? Karena saya khawatir lapar selama dijalan atau mungkin tidak akan dapat tempat untuk membeli makanan. Ini jugalah yang Tuhan sedang tegaskan pada murid-muridNya, untuk tidak khawatir akan pemeliharaan mereka selama diperjalanan karena Tuhan yang akan memberi mereka upah dan memelihara mereka.

Matius 10:16
Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Bukan lagi masalah dimangsa secara fisik tapi ketika saya mau mengasihi orang, hati sayalah yang akan dimangsa oleh respon dari orang lain. Bahkan serigala disini jg bisa berarti tentang karakter penerimaan saya terhadap orang lain, jika tidak rohani maka saya bisa mengmangsa diri saya sendiri.
Udah menyangkal diri buat mengasihi orang ini, tapi pas sudah bs lakukan orangnya malah kasih respon negatif bahkan menghindar. Kecewa iya, dan berpikir untuk tidak lakukan lagi. Tapi emang Tuhan udah jelaskan klu standar saya jangan seperti itu, saya harus cerdik dan tulus saat mengasihi mereka, jadi perlu persiapan yang cerdik dan menanti hasilnya dengan tulus jd apapun respon yg saya terima harusnya tidak akan memperburuk keadaaan saya.

Dari saat teduh ini saya belajar untuk

  1. Punya strategi yang tepat ketika mau membantu dan mengasihi orang, saya harus fokus pada orang-orang terdekat saya terlebih dahulu, setelah itu Tuhan pasti akan berikan kemampuan lebih lagi untuk saya bisa mengasihi orang yang lebih banyak.
  2. Jangan khawatir ketika mau mengasihi orang lain, karena Tuhan sendiri yang akan memampukan saya asalkan standar kasih yang saya pakai bukan dari kasih saya tapi kasihNya Tuhan yang saya kirim ke orang lain. Saya hanya perantara.
  3. Cerdik dan tulus dalam mempersiapkan diri dalam mengasihi diri saya sendiri dan orang lain.

Palopo, 10-05-2020

Matius 9

Matius 9:2
Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”

Pasal ini menceritakan tentang hal2 yang Tuhan Yesus lakukan saat pulang ke kotaNya dimana diawali dengan adanya beberapa orang yang membawa seorang yang sakit kepadaNya.

Dari ayat ini sya belajar dari respon mereka baik yang membawa maupun yang sedang sakit. Sebagai seorang yang mau menolong orang, saya harus terlebih dahulu punya iman bahwa apa yang saya lakukan buat orang lain itu benar-benar bisa membantunya untuk sembuh bukan saya malah ragu duluan.

Sedangkan saat saya di posisi orang sakit ini, saya harus belajar untuk punya sikap yang bergumul dan sadar dengan penyakit saya dan dengan penuh kerelaan menyerahkan diri untuk ditolong.

Ayat ini juga mengingatkan saya lagi klu pada dasarnya dosa sayalah yang menjadi sumber segala penyakit saya di mata Tuhan, bukan sakit yg tampak dr tubuh saya. Ketika dosa saya diampuni, banyak hal yang akan berubah/terdampak dalam hidup saya, sebaliknya jika hanya fisik saja yang sembuh maka itu tidak akan mengubah apapun selain penyakit itu saja.

Matius 9:8
Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.

Apa yang Tuhan kerjakan selalu punya patern yaitu bisa membuat orang lain menjadi takut akan kuasa Allah dan kemudian manjadikan orang itu makin memuliakan Allah.
Pertanyaan buat saya :
Apakah semua yg saya lakukan juga bisa membuat orang disekitar saya memiliki respon yg sama seperti ini?
Saya harus mengupayakan hal itu karena itulah tujuan saya menjadi muirid Tuhan yang harus melakukan hal yang sama dengan Tuhan

Dari saat teduh ini saya belajar :

  1. Sebelum saya membantu orang mengenal Tuhan dan menjadi murid, saya sendiri harus punya iman dan keyakinan yang dalam akan apa yang saya lakukan itu benar-benar bisa membantu saya dan orang lain.
  2. Saat saya mulai lakukan itu, sayapun harus terus berjaga-jaga akan diri saya apakah saya benar-benar mau membereskan setiap dosa yang saya miliki, dan mau meminta tolong keorang lain dengan mengakui itu dan mau untuk saling mendoakan. (Yak 5:16)
  3. Apapun yang saya lakukan harus membuat orang disekitar saya makin merasakan Tuhan, bahwa Ia ada dalam hidup saya dan perlahan mengubahkan pribadi saya sehingga orang lain menjadi tertarik untuk ikut diubahkan oleh kuasa Tuhan yang sama.

Palopo, 09-05-2020

Matius 8

Matius 8:2
Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”

Saat memikirkan bagaimana cara orang kusta ini meminta kepada Tuhan untuk disembuhkan, saya jadi belajar dari sikap hatinya yang meminta bukan apa yang ia mau tapi meminta kemurahan hati Tuhan. Begitu juga harusnya sikap hati saya dalam berdoa dan meminta kepada Tuhan, bukan lagi seperti orang yg memerintah Tuhan untuk lakukan seperti apa yang saya pikirkan/mau, “ya Tuhan tolong ini tolong itu”, kadang sampai ngotot jg. Tapi belajar untuk lebih melihat siapa saya dan siapa Tuhan dengan merendahkan diri saya lebih lagi bahwa apapun yang saya minta tergantung dari kemauan Tuhan. Meskipun saya mau ini dan itu, tapi biarlah yang terjadi nanti sesuai dengan apa yang Tuhan mau.

“Tuhan, jika Tuhan mau, Tuhan dapat menyembuhkan aku dari kesombonganku”

Dengan punya hati dan cara meminta yg seperti ini jg akan bantu saya semakin percaya klu Tuhan sangat mampu melakukan segala sesuatu hanya masalah hal itu dikehendakiNya atau tidaklah yg menentukan hal itu terjadi atau tidak.

Like Jesus said “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Matius 8:8-9
Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”

Belajar dr hati perwira ini yang dengan penuh kerendahan diri sangat percaya akan kuasa Tuhan.

Dari saat teduh ini saya makin belajar untuk punya sikap yang benar dihadapan Tuhan dan makin mengerti klu Arie harus seperti apa ketika datang meminta kepada Tuhan. Selain suatu hubungan yang begitu dekat dengan Tuhan, seperti seorang anak yang meminta kepada papanya, Arie jg harus punya siapkan hati dan pikiran yang serendah-rendahnya dihadapan Tuhan yang adalah tuan dan saya seorang budak, dan meminta dengan penuh rasa takut dan percaya, bukan agar apa yang saya minta harus terjadi tapi agar apa yang saya minta dan doakan Tuhan bermurah hati untuk mendengar dan membuatnya terjadi sesuai yg Tuhan mau.

Tambahan :

Matius 8:4
Lalu Yesus berkata kepadanya: “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”

Pas baca bagian ini jujur saya sempat bertanya2 kenapa tidak boleh menyebarkan kesembuhannya kepada orang lain tp harus kepada imam dl!! Karena emang seharusnya itu yang dilakukan oleh seorang yg sembuh dari Kusta sebagimana di (Imamat 14)

Makin amazing lg lihat respon Tuhan, meskipun ia sanggup melakukan segala sesuatu, tapi Ia selalu melakukan persis seperti yang ia Firmankan, tidak kurang tidak lebih.

Palopo, 08-05-2020

Matius 7

Matius 7:1-2
Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Matius 7:6
Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.

Saat membaca 2 bagian ayat ini berulang-ulang kali saya jadi sadar bahwa bukan hanya masalah penghakiman atau bagaimana saya memberi yang Tuhan sedang tegur, tapi saya jadi sadar klu diayat ini Tuhan sedang menjelaskan bagaimana saya dimata pencipta saya, saya ini diciptakan bukan dalam kapasitas untuk melakukan kedua hal itu dengan baik. Mau bagaimanapun saya berusaha untuk upgrade diri dengan kemampuan saya sendiri dalam melakukan kedua hal itu, saya tidak akan mampu dan bisa melakukannya dengan benar.

Trus apa yang harus saya lakukan…..?

Matius 7:7-8
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

Ayat ini bukan berbicara tentang meminta dan menemukan sesuatu secara material tapi saya belajar bahwa Tuhan sedang mengingatkan saya untuk meminta Hikmat yg asalnya dari Dia, saya harus mencari hikmat itu kepada Tuhan agar saya mendapatkan Hikmat, saya harus mengetok pintu hikmat itu agar Tuhan membukakan pintu hikmat itu.

Matius 7:12
Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.
Matius 7:16
Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
Matius 7:24
Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia SAMA DENGAN ORANG YANG BIJAKSANA, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Dan inilah yang Tuhan mau untuk saya perbuat setelah saya meminta hikmat itu, karena inilah hikmat dari Tuhan. Saya jangan fokus kepada orang lain tapi pada tindakan saya sendiri apa yang bisa saya lakukan untuk membuat orang lain merasa dikasihi, karena itulah juga yg orang akan perbuat kepada saya jika saya sedang mengharapkan saya untuk dikasihi. Begitu juga ketika saya melihat orang lain bukan dari bagaimana perawakan mereka ataupun first impressionnya saya kepada mereka tp dr buah-buah apa yang sedang mereka kerjakan/perjuangkan.

Dari saat teduh ini saya belajar :

  1. Makin sadar dengan bagaimana Tuhan menciptakan saya tidak untuk dalam kapasitas mengukur orang lain maupun diri saya sendiri berdasarkan cara pikir/hikmat saya sendiri.
  2. Setiap waktu datang kepada Tuhan untuk meminta/mencari/mengetok pintu hikmat itu dengan belajar takut akan Tuhan dan semakin bergantung pada pendengaran akan Firman Tuhan.
  3. Setelah tau yang benar, saya harus lakukan dengan cara itu, bukan lagi dengan menggunakan cara saya.

Palopo, 07-05-2020

Matius 6

Matius 6:4
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Matius 6:6
Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Matius 6:18
supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Pagi ini saya belajar dari tiga ayat di atas bagaimana pada ayat yg pertama Tuhan berbicara tentang bagaimana sikap saya saat berbagi ke orang lain, yang kedua tentang bagaimana saya dalam berdoa, dan yg ketiga tentang berpuasa.
Meskipun ketiganya merupakan tindakan yang berbeda, tapi hanya satu ukuran yang Tuhan pakai untuk melihat ketiga tindakan saya itu, yaitu

Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Apakah saya melakukan semuanya itu dengan tersembunyi atau dengan diketahui orang lain? Bukan berarti jangan sampai diketahui orang tapi lebih kepada motivasi saya dalam melakukan hal itu, apakah murni untuk menyenangkan hati Tuhan dan untuk membangun hubungan pribadi saya dengan Tuhan atau hanya untuk supaya diketahui orang lain bahwa saya seorang yang religius/sangat taat beragama. Saat saya lakukan itu, upah saya sudah dibayar oleh manusia, tidak ada lagi upah saya di Sorga/dari Tuhan.

Matius 6:19-21
Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Tuhan memperingatkan saya dari ayat ini klu inilah karakter upah yang tersedia bagi saya, pilihannya kembali lagi kesaya apakah saya fokus pada apa yang bisa saya dapat dari dunia, fokus pada respon orang, haus akan pengakuan, pujian, sanjungan, dll. Semuanya itu tidak akan awet, bisa rusak dan dicuri alias berubah dalam seketika menjadi respon yang sebaliknya seperti pikiran jahat, makian, hujatan, dll. Atau saya mau memilih balasan dari Tuhan, yg meskipun saat ini saya belum bisa rasakan secara langsung tp disana upah itu tidak akan pernah habis dan tidak akan berubah.

“He is no fool who gives what he cannot keep to gain which he cannot lose” JB

Dari saat teduh ini saya belajar :

  1. Membangun hubungan saya dengan Tuhan secara personal, bukan karena dorongan dari luar tapi dari dalam hati saya yang tersembunyi.
  2. Menjadi lebih bijak dalam memilih upah yang harusnya saya perjuangkan, bukan pengakuan/pujian dari orang lain tapi pujian dari Tuhan.
  3. Percaya akan pemeliharaan Tuhan bagaimanapun dan seperti apapun keadaan yang saya alami saat ini, karena itulah yg menjadikan saya sebagai orang yang benar-benar percaya padaNya.

Palopo, 06-05-2020

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Matius 5

Matius 5:2-12
Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: “Berbahagialah orang yang MISKIN DI HADAPAN ALLAH, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang BERDUKACITA, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang LEMAH LEMBUT, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang LAPAR DAN HAUS AKAN KEBENARAN, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang MURAH HATINYA, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang SUCI HATINYA, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang MEMBAWA DAMAI, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang DIANIAYA OLEH SEBAB KEBENARAN, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Secara pribadi sya banyak ditegur dari khotbah pak Harlem minggu kemarin pas membawakan bagian ayat ini, jujur membuat pemahaman saya berubah, yang semula saya bepikir klu ayat ini berbicara tentang keadaan fisik atau eksternalnya saya, seperti miskin secara materi, lemah lembut secara pembawaan, dll. Tapi setelah belajar kembali saya jadi tau klu ternyata semua ucapan bahagia ini fokus nya pada keadaan internal saya yaitu hati saya.

Apakah saya punya hati yang bisa merasa miskin di hadapan Allah?
Ketika saya merasa miskin dihadapan seseorang berarti saat yang sama saya menganggap orang itu kaya dihadapan saya. Demikian halnya dengan Tuhan, saat saya bisa benar-benar menempatkan hati saya diposisi miskin/kekurangan/tidak mampu dihadapan Tuhan, maka saat itulah harusnya membuat saya makin bergantung pada Tuhan dan bisa melihat bahwa segala sesuatu yang saya butuhkan ada pada Tuhan.

Apakah saya punya hati yang berdukacita? Bukan karena dukacita karena kehilangan seseorang yang saya kasihi, tapi lebih karena kehilangan koneksi saya dengan Tuhan karena begitu rusaknya saya dengan dosa-dosa yang sudah saya lakukan dan mengecewakan Tuhan yang membuat saya hancur hati.

Apakah saya punya hati yang lemah lembut? Bukan fisikly yg lemah lembut, tapi lebih kepada hati saya yang mau tunduk pada Tuhan, saya menomor duakan prinsip hidup saya demi ikuti apa yang Tuhan mau, Tuhan senangi.

Apakah hati saya menjadi lapar dan haus akan kebenaran ? Lapar dan haus artinya saya punya ketergantungan lebih akan setiap Firman Tuhan, be addicted with truth of God, tanpa disuruh dan ditegorpun saya harus selalu mencari kebenaran itu.

Dari saat teduh saya kali ini, saya makin bisa melihat bagaimana Tuhan sangat ingin menyampaikan klu hal yang paling bisa membut saya benar-benar Joyful didalam Dia adalah dengan menjaga dan menepatkan hati saya dikeadaan yang semestinya yaitu hati berisikan Kebenaran Tuhan.

Palopo, 05 – 05 – 2020

Matius 4

Matius 4:1-3
Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”

Setelah Tuhan Yesus dibaptis, maka Roh Allah membawaNya kepadang gurun untuk dicobai. Dengan “sengaja” Allah membawa/menyerahkan anakNya ke tempat pencobaan. Untuk apa? Emang harus yah kayak gitu? Kenapa harus lewat proses itu?

Saya melihat bahwa hal ini Tuhan tuliskan untuk menunjukkan kepada saya dan kamu bahwa pencobaan itu merupakan bagian penting dalam kehidupan saya sebagai seseorang yang mau hidup sebagaimana Tuhan Yesus hidup. Jadi ketika saya memutuskan untuk jadi muridNya, pencobaan harusnya bukan lagi menjadi hal yang membuat saya mempertanyakan kasih Tuhan. Kenapa saya dicobai! Tuhan saja dengan sengaja dibawa untuk dicobai, justru menjadi suatu kebanggaan kelau sayapun dibawa untuk dicobai, artinya Bapa memperlakukan saya sama dengan Tuhan Yesus.

Dari Firman Tuhan inipun saya jadi mengerti bagaimana Tuhan memang tidak pernah mencobai saya, hanya iblislah yang melakukan itu, iblis merupakan tools yang Tuhan pakai untuk menguji iman percaya saya. Jadi saat pencobaan itu datang, itu dikerjakan oleh iblis, yang dengan sengaja Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan saya. Ini membuat saya yakin bahwa Bapa berkuasa/berdaulat atas pencobaan. Demikian halnya dengan situasi saat ini dimana saya percaya bahwa Pandemi covid-19 pun Tuhan izinkan datang dalam hidup saya dan semua orang untuk tujuan yang baik untuk semakin memurnikan iman percaya saya. Untuk semakin membuat saya melihat siapa tuannya “who is my master”, dan membuat saya menjadi semakin bergantung padaNya

Dari saat teduh ini saya belajar :

  1. Bersyukur ketika saya jatuh dalam pencobaan karena Bapa memperlakukan saya sama dengan Ia memperlakukan Tuhan Yesus.
  2. Bahwa Tuhan itu berkuasa/memegang kendali atas setiap pencobaan yang dikerjakan oleh iblis dalam hidup saya
  3. Pencobaan itu baik untuk membuat iman saya makin murni dimata Tuhan.
  4. Terus menjaga hati saya, agar saat pencobaan itu datang sya tetap memiliki respon/kesadaran seperti pada 3 point di atas.

Palopo, 04 Mei 2020
Heve a good day

Roma 4 – Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan

Roma 4:3
Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”

Pada bagian ini Paulus menceritakan tentang Iman seorang Abraham yang Tuhan perhitungkan sebagai kebenaran. Iman yang seperti apa?

Roma 4:18-21
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

Iman yang tetap percaya pada janji Tuhan bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa. Meskipun secara manusiawi hal itu sangat mustahil untuk terjadi mengingat usianya sudah sangat tua dan tubuhnya sudah sangat lemah dan bahwa rahim Sara istrinya telah tertutup, dari mana ia bisa jadi bapa sebuah bangsa, seorang anakpun ia tidak punya.

Iman Abraham tidak menjadi lemah, malah dengan penuh keyakinan, ia percaya kalau Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
Iman yang seperti inilah yang Tuhan perhitungkan sebagai kebenaran.

Hal itu tidak hanya berlaku untuk Abraham saja, tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.

Jadi, saya harus punya keyakinan yang dalam akan setiap janji Tuhan yang telah Ia janjikan kepada saya pasti akan Ia penuhi. Belajar untuk punya fokus pada janji itu bukan pada keadaan yang sedang saya alami saat ini baik keadaan saya saat ini emang mendukung untuk janji itu terpenuhi atau tidak. Jangan sampai saya jadi ragu dan tidak percaya.

Palopo, 04-04-2020

Roma 3 – Kasih Karunia yang menuntun/menuntut pertobatan

Roma 3:1-8

Surat Paulus kepada jemaat diRoma ini begitu terstruktur dan jujur pada bagian awal ini sangat susah untuk saya pahami sehingga saya mengulang membacanya sampai 3 kali baru saya bisa mengerti karena ayat ini mengingatkan saya pada 2 Korintus 12:9 bahwa “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Tapi bukan karena mengandalkan kasih karunia Tuhan lantas membuat saya bermain-main dengan dosa karena seperti dibacaan saya kemarin yang mengajarkan tentang kemurahan Tuhan yang sebenarnya menuntut saya untuk lakukan pertobatan bukan untuk semakin menikmati dosa saya.

Jadi pada dasarnya tidak ada yg namanya kasih karunia yang tak terbatas sehingga saya bebas untuk lakukan apa yang saya mau, toh pada akhirnya Tuhan tetap ngampunin saya. Jadi berbeda antara orang yang jatuh dosa kemudian ingin bangkit dengan bertobat, dengan orang yang sudah jatuh tp tidak mau bangkit alias enjoy nikmati dosa/kelemahannya ini.

Roma 3:9-10
Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.

Setelah tahu akan kuasa kasih karunia ini, Paulus kemudian menjelaskan sebenarnya siapa sih yang paling perlu akan kasih Karunia Tuhan ini! Orang Yahudi sajakah atau orang Yunani, atau saya.
Jawabanya ialah kita semua ini sama, apapun latar belakang saya dan kamu, kita ini aejak awal ada dibawah kuasa dosa, tidak ada satupun yang dapat membenarkan diri dihadapan Tuhan. Alias saya udah rusak dari awal, tidak ada satupun yang dapat saya perbuat yg membuat saya kembali utuh dihadapan Tuhan selain dari mengandalkan kasih karunia Tuhan itu.

Roma 3:23-25
Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.

Selanjutnya Paulus menjelaskan Kasih Karunia yang bagaimanakah yang bisa mengubahkan saya dimata Tuhan?
Kasih Karunia lewat iman percaya kepada Yesus Kristus yang karena darahNya memulihkan/mendamaikan hubungan saya dengan Bapa disorga yang selama ini jadi seteru saya karena dosa yang saya punya sejak saya ada dunia ini.

Jadi yang saya harus lakukan adalah:

  1. Sadar diri klu pada dasarnya saya ini adalah orang berdosa dan tidak ada satupun yang dapat saya lakukan sendiri yang mampu mengubah keadaan saya itu. Sangat susah membersihkan lantai yang kotor dengan menggunakan sapu kotor.
  2. Dengan kerendahan hati mau datang menghampiri kasih karunia Tuhan yang bisa memulihkan saya itu. Yaitu dengan membangun iman percaya kepada Tuhan Yesus bahwa Ia mati untuk saya bisa berbaikan lagi dengan Bapa. Darah Tuhan Yesus membersihkan dosa saya yang menjadi penghalang saya datang kepada Tuhan, begitu juga sebalikanya penghalang Tuhan datang kepada saya.
  3. Tidak menyia-nyiakan kasih karunia itu dengan tetap menikmati kelemahan saya, tapi mau bangkit dan lakukan pertobatan saya, bertumbuh sesuai dangan yang Tuhan mau. Tidak ada alasan untuk saya tidak bisa lakukan itu. Apalagi jika syaa sensiri percaya klu Kuasa Tuhan itu unstoppable, termasuk kuasa yang mengubahkan hidup saya.

Palopo, 03-04-2020

Roma 2 – Ciri orang yang hatinya dipenuhi Firman Tuhan

Surat Paulus untuk jemaat Roma pada bagian ini banyak menceritakan tentang karakter Tuhan yaitu

  1. Tuhan yang menghukum/menghakimi dengan jujur segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia (ayat 1-3). Dan karena itu saya tidak ada hal untuk menghakimi sesama saya karena sayapun ada saatnya akan melakukan hal yang sama.
  2. Kemurahan Tuhan yang mendorong pertobatan (ayat 4-5). Dari ayat ini saya bisa melihat bahwa kemurahan Tuhan itu bukan untuk saya anggap enteng karena itu sebenarnya hanyalah kesempatan yang Tuhan berikan kepada saya untuk segra melakukan pertobatan saya. Jika tidak saya lakukan, saya tidak berhak atas kemurahan Tuhan itu lg. Disin sya bs melihat klu ternyata kemurahan Tuhan itu ada batasnya, tp bukan Tuhan yang membuat itu terbatas melainkan saya dan hati saya sendiri yang membuatnya terbatas akan hidup saya.
  3. Tuhan akan membalas orang menurut perbuatannya (ayat 6-10). Dengan kata lain ketika saya tidak mau bertobat dan memanfaatkan kemurahan Tuhan, maka saatnya akan tiba Tuhan akan melakukan perhitungan yang adil dengan saya. Dan untuk hal ini sya sudah pastikan klu saya pasti tidak sanggup menyeimbangkan perbuatan baik saya dengan perbuaan jahat yang sudah saya lakukan.
  4. Tuhan tidak memandang buluh/tebang pilih (ayat 11-16). Tidak ada hak istimewa dimata Tuhan mau itu saya memutuskan tunduk dibawa hukum Taurat seperti orang Yahudi ataupun dr segi jabatan sebagai pendeta sekalipun tidak ada bedanya dimata Tuhan jika saya tidak mau melakukan pertobatan.

Roma 2:13&15
Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan….Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.

Dan inilah yang membuat saya dan kamu di mata Tuhan benar-benar punya hati yang didalamnya ada tertulis Firman Tuhan yakni ketika saya dan kamu melakukan apa yang dituntut dalam Firman Tuhan, termasuk tuntutan/tuntunan kemurahan Tuhan akan buah-buah pertobatan saya dan kamu.

Palopo, 02-04-2020
Jangan berhenti lakukan pertobatan kita setiap hari