2 Tawarikh 2

2 Tawarikh 2:5-6
Dan rumah yang hendak kudirikan itu harus besar, sebab Allah kami lebih besar dari segala allah. Tetapi siapa yang mampu mendirikan suatu rumah bagi Dia, sedangkan langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Dia? Dan siapakah aku ini, sehingga aku hendak mendirikan suatu rumah bagi Dia, kecuali sebagai tempat untuk membakar korban di hadapan-Nya?

Dalam bacaan ini, dimulailah Salomo untuk menjalankan warisan ayahnya, yakni membangunkan rumah buat Allah, dan pada permulaannya Salomo berhikmat kalau bahan yang dibutuhkan masih kurang, itulah kenapa ia malakukan kerjasama bilateral dengan kerajaan Tirus di Lebanon dimana mereka menyiapkan pekerja dan seorang ahli, sedangkan Salomo menyiapkan konsumsi buat mereka.

Hikmat yang luar biasa yah bagaimana ia memperlakukan pembangunan rumah Allah ini sebagai perkerjaan yang sangat serius, nggak boleh setengah-setengah sehingga ia butuh semua orang terampil dalam bidangnya karena ia sadar klu rumah ini buat pembakaran korban buat Tuhan. It’s must be perfect.

Dari saat teduh saya pagi ini saya belajar dari Salomo, untuk :

  1. Tidak menunda hal baik yang bisa saya kerjakan karena membangun rumah Tuhan yakni diri saya sendiri harus saya mulai dari saat ini juga.
  2. Saya harus membangun rumah Tuhan dengan begitu sempurna, tanpa cacat, kudus di hadirat Tuhan karena hidup saya adalah korban bakaran buat Tuhan yang harus bisa menyenangkanNya.
  3. Membangun rumah Tuhan yang lain dengan keterampilan/talenta yang saya miliki yakni brother dan sister saya karena semakin banyak korban bakaran yang sesuai kriteria Tuhan makan semakin bisa menyenangkan hatiNya.

Palopo, 11-02-2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *