Matius 10

Firman Tuhan kali ini menjelaskan pesan/perintah Tuhan Yesus kepada kedua belas murid-Nya sebelum mereka diutus/berpisah dengan Tuhan Yesus. Dan hal inipulalah yang berlaku buat saya untuk lakukan sebagai seorang murid Tuhan, bukan hanya buat murid-murid waktu Tuhan Yesus masih di dunia.

Matius 10:5-6
Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.

Awalnya sempat bertanya kenapa Tuhan membatasi ruang lingkup kemana murid2nya harus melenyapkan penyakit, kenapa tidak ke Samaria?
Pas baca beberapa penjelasan, saya baru mengerti klu ayat ini sementara menjelaskan karakter Tuhan sebagai seorang komandan tempur yang bijaksana dan penuh perhitungan. Tuhan tau kapasitas murid2nya seperti apa, sehingga Ia membuat batasan agar murid-muridNya ini bisa fokus kepada hal-hal yang harus mereka kerjakan.

Matius 10:9-10
Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.

Saat saya melakukan perjalanan, kenapa saya bawa perbekalan? Karena saya khawatir lapar selama dijalan atau mungkin tidak akan dapat tempat untuk membeli makanan. Ini jugalah yang Tuhan sedang tegaskan pada murid-muridNya, untuk tidak khawatir akan pemeliharaan mereka selama diperjalanan karena Tuhan yang akan memberi mereka upah dan memelihara mereka.

Matius 10:16
Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Bukan lagi masalah dimangsa secara fisik tapi ketika saya mau mengasihi orang, hati sayalah yang akan dimangsa oleh respon dari orang lain. Bahkan serigala disini jg bisa berarti tentang karakter penerimaan saya terhadap orang lain, jika tidak rohani maka saya bisa mengmangsa diri saya sendiri.
Udah menyangkal diri buat mengasihi orang ini, tapi pas sudah bs lakukan orangnya malah kasih respon negatif bahkan menghindar. Kecewa iya, dan berpikir untuk tidak lakukan lagi. Tapi emang Tuhan udah jelaskan klu standar saya jangan seperti itu, saya harus cerdik dan tulus saat mengasihi mereka, jadi perlu persiapan yang cerdik dan menanti hasilnya dengan tulus jd apapun respon yg saya terima harusnya tidak akan memperburuk keadaaan saya.

Dari saat teduh ini saya belajar untuk

  1. Punya strategi yang tepat ketika mau membantu dan mengasihi orang, saya harus fokus pada orang-orang terdekat saya terlebih dahulu, setelah itu Tuhan pasti akan berikan kemampuan lebih lagi untuk saya bisa mengasihi orang yang lebih banyak.
  2. Jangan khawatir ketika mau mengasihi orang lain, karena Tuhan sendiri yang akan memampukan saya asalkan standar kasih yang saya pakai bukan dari kasih saya tapi kasihNya Tuhan yang saya kirim ke orang lain. Saya hanya perantara.
  3. Cerdik dan tulus dalam mempersiapkan diri dalam mengasihi diri saya sendiri dan orang lain.

Palopo, 10-05-2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *