2 Tawarikh 8

2 Tawarikh 8:1-2
Setelah lewat dua puluh tahun selesailah Salomo mendirikan rumah TUHAN dan istananya sendiri. Maka Salomo memperkuat kota-kota yang diberikan Huram kepadanya, dan menyuruh orang Israel menetap di sana.

Secara fisik bangunan Rumah Tuhan selesai dalam waktu 7 tahun, namun untuk merampungkan semuanya baik interior maupun eksterior, Salomo membutuhkan waktu 20 tahun, beserta dengan istananya sendiri.
Tidak cukup di situ, Salomo melanjutkan kehendaknya untuk membangun kota-kota berkubu yang lain. Inipun salah satu hikmat Salomo dalam hal membangun (tekhnik sipil) setiap bangunan kota di Yerusalem sehingga akan makin takjublah kota-kota/kerajaan-kerajaan di sekitarnya.

2 Tawarikh 8:11
Dan Salomo memindahkan anak Firaun dari kota Daud ke rumah yang didirikannya baginya, karena katanya: “Tidak boleh seorang isteriku tinggal dalam istana Daud, raja Israel, karena tempat-tempat yang telah dimasuki tabut TUHAN adalah kudus.”

Segitu respectnya Salomo kepada Tuhan bahkan istrinya sendiripun dijadikan nomor sekian untuk menunjukkan bagaimana kekudusan Tuhan itu harga mati dan nggak bisa ditawar.

Dari saat teduh saya kali ini saya belajar:

  1. Bertumbuh butuh proses. Untuk membangun rumah Tuhan saja butuh waktu 20 tahun dengan begitu banyaknya pekerja, apalagi jika saya lakukan sendiri. Saat saya membangun rumah Tuhan (hidup saya) juga butuh waktu, nggak akan berubah begitu saja.
  2. Be creatif, membangun hidup saya nggak harus monoton, begitu juga dengan kerajaan Allah. Perlu kreatifitas dan jangan berhenti karena menjadi berbeda adalah salah satu ciri hidup murid. Selama berdasar pada Firman Tuhan.
  3. Tidak kompromi, Salomo dengan segala kemegahannya tetap bisa memandang kekudusan Tuhan itu harga mati lebih dari segala yang ia punya, bahkan istrinya sendiri. Bagaimana dengan saya! Harusnya lebih lagi melihat kekudusan Tuhan dan bidup saya itu sebagai prioritas utama saya.

Selayar, 18-02-2021

2 Tawarikh 7

2 Tawarikh 7:17-18
Mengenai engkau, jika engkau hidup di hadapan-Ku sama seperti Daud, ayahmu, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturan-Ku, maka Aku akan meneguhkan takhta kerajaanmu sesuai dengan perjanjian yang telah Kuikat dengan Daud, ayahmu, dengan berkata: Takkan terputus keturunanmu yang memerintah atas Israel.

Inilah jawaban doa Salomo dari Tuhan setalah doa dan korban sembelihan yang Salomo lakukan untuk Tuhan.
Ada hubungan “jika & maka” atau “sebab & akibat” dalam jawaban Tuhan ini.

Namanya juga perjanjian 2 belah pihak, kedua-duanya menghendaki adanya prestasi (kewajiban) – istilah hukum perdata

Jika Salomo hidup sama seperti Daud yg berpegang pada perintah Tuhan ==== Tuhan akan membuat keturunan Salomo tak terputus memerintah Israel.

SEBALIKNYA

2 Tawarikh 7:19-20
Tetapi jika kamu ini berbalik dan meninggalkan segala ketetapan dan perintah-Ku yang telah Kuberikan kepadamu, dan pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, maka Aku akan mencabut kamu dari tanah-Ku yang telah Kuberikan kepadamu, dan rumah ini yang telah Kukuduskan bagi nama-Ku, akan Kubuang dari hadapan-Ku, dan akan Kujadikan kiasan dan sindiran di antara segala bangsa.

Jika Salomo wanprestasi dengan berbalik tidak patuh pada perintah Tuhan dan menyembah allah lain ==== Tuhan akan mencabut (membinasakan) Salomo dan rumah Tuhan yg mereka banggakan itu akan Tuhan jadikan cacian bagi bangsa lain.

Dari saat teduh saya hari ini saya belajar untuk:

  1. Melihat Tuhan secara utuh, bukan hanya Ia Tuhan yang begitu mengasihi saya, tapi Tuhan juga adil/fair. Ia punya standar sebagai Tuhan yg tidak bisa Ia langgar, demikian juga sebaliknya sayapun harus punya standar hidup jika mau jadi murid Tuhan. Gak asal-asalan alias suka-suka saya.
  2. Comply to the contract. Ketika saya jadi murid Tuhan, artinya saya sedang mengikat perjanjian dengan Tuhan, ada yang harus saya lakukan untuk menentikan reward dari Tuhan. Jika saya lakukan yg tidak sesuai perjanjian maka Tuhanpun tidak akan bisa melakukan bagianNya dalam hidup saya. Contohnya saja dosa saya itu menghalangi Tuhan untuk mengasihi saya.
  3. Percaya klu Tuhan sanggup melakukan apapun. Ia sanggup untuk menanam dan menumbuhkan, Ia juga sanggup untuk mencabut dan membinasakan siapapun yang dikehendakiNya, termasuk saya.

Selayar, 17-02-2021

2 Tawarikh 6

2 Tawarikh 6:18-19
Tetapi benarkah Allah hendak diam bersama dengan manusia di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidaklah dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya TUHAN Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu ini!

Setelah semuanya selesai, tabut perjanjian sudah di dalam rumah Allah, Salomopun bersyukur kepada Tuhan dan ia menyadari klu itu semua bukan karena apa yang ia lakukan tapi semata-mata hanya karena janji Tuhan saja dan karena Tangan Tuhan saja maka semuanya bisa terjadi. Itu menandakan bagaimana Salomo sama seperti Daud, punya personal relationship dengan Tuhan yang begitu dalam.

Hal itu jugalah yang membuat dia bisa memanjatkan doa-doa ini ke hadapan Tuhan, doa yang begitu real kepada Tuhan yang ia kenal begitu mulia tapi begitu ingin dekat dengan umatNya. Dari doa Salomo ini jugalah terlihat bagaimana ia bagitu penuh hikmat. Ia belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu bangsa itu dan tau klu hal itu pasti akan berulang (dosa manusia tidak pernah berubah) oleh karena itu ia meminta kepada Tuhan, sekiranya hal itu terjadi, dan mereka mau berbalik dengan sepenuh hati kepada Tuhan, Tuhan kiranya mengampuni dosa mereka dan mengembalikan keadaan bangsa itu. (2 Tawarikh 6:36-38)

Dari saat teduh saya malam ini saya belajar :

  1. Merendahkan diri saya lebih lagi di hadapan Tuhan, karena semua yang kelihatannya pencapaian saya sampai saat ini bukan karena perjuangan saya, tapi semuanya hanya karena tangan kuasa Tuhan yang berperang dan membawa saya sejauh ini.
  2. Tuhan tidak pernah berubah, mikir klu Tuhan perjanjian lama itu kejam sedangkan perjanjian baru itu lebih soft, nggak seperti itu. Dari doa Salomo ini saya bisa melihat Tuhan itu sama kok, syarat buat manusia menyenangkan Tuhan di perjanjian lama dan perjanjian baru sama saja “ikuti kehendakNya -jika gagal dan terjatuh – bangkit dan bertobat dengan segenap hati”
  3. Dosa manusia nggak pernah berubah juga, selalu sama dari dulu sampai sekrng begitu juga dosa saya, yang artinya hanya butuh satu penyembuh dan penyelamat sampai kapanpun yaitu darah Tuhan Yesus.

Selayar, 16-02-2021

2 Tawarikh 3-5

2 Tawarikh 3:1-2
Salomo mulai mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem di gunung Moria, di mana TUHAN menampakkan diri kepada Daud, ayahnya, di tempat yang ditetapkan Daud, yakni di tempat pengirikan Ornan, orang Yebus itu. Ia mulai mendirikan rumah itu dalam bulan yang kedua, pada tahun keempat pemerintahannya.

Mulailah Salomo mendirikan rumah bagi Tuhan seperti yang dikehendaki Tuhan melalui Daud, ayahnya. Tidak begitu lama semenjak ia menjadi raja menggantikan Daud ayahnya, berarti masih sekitar dua puluhan tahun, Salomo langsung memulai proses demi proses mendirikan rumah yang megah itu sesuai rancangan yang ditinggalkan Daud. Salomo tidak menunda, padahal ia punya banyak alasan menundanya (masih terlalu muda, miskin pengalaman, dll) bahkan tidak melakukan keinginan ayahnya ini.

2 Tawarikh 5:5-6
Mereka mengangkut tabut itu dan Kemah Pertemuan dan segala barang kudus yang ada dalam kemah itu; semuanya itu diangkut oleh imam-imam dan orang-orang Lewi. Tetapi raja Salomo dan segenap umat Israel yang sudah berkumpul di hadapannya, berdiri di depan tabut itu, dan mempersembahkan kambing domba dan lembu sapi yang tidak terhitung dan tidak terbilang banyaknya.

Akhirnya pekerjaan pembangunan rumah Allah itu selesai juga dalam waktu 7 tahun, dan setelah itu tibalah saatnya isi rumah itu dipindahkan yaitu Tabut Perjanjian Allah. Sepanjang perjalanan tabut itu bukanlah perjalanan biasa tapi banyak banget hewan yang disembelih dan dikorbankan (nggak kebayang gimana mengerikannya perjalanan itu, pasti bersimbah darah banget). Tapi itulah tanda bagaimana Tuhan dan manusia itu berbeda, Ia begitu kudus sehingga untuk berdamai dengan manusia butuh pencurahan darah. Dan itulah yang Tuhan Yesus lakukan juga selama jalan salib sampai disalib.

Dari saat teduh saya malam ini saya belajar :

  1. Tidak menunda setiap pekerjaan baik dan benar yang bisa saya lakukan saat ini, karena hari-hari semakin jahat, semakin saya tunda maka semakin besar kmungkinan hal baik itu tidak bisa saya lakukan. Terlebih dalam menginjili orang lain.
  2. Taat, sama seperti Salomo melakukan persis seperti yang ditinggalkan Daud, sayapun harus setia melakukan persis seperti apa yang ditinggalkan Tuhan Yesus lewat cara hidupNya.
  3. Bersyukur lewat pengorbanan Tuhan Yesus sekali untuk selama-lamanya, nggak kebayang klu hari ini saya dan kamu setiap kali mau datang ke Tuhan yang kudus itu, harus mengorbankan beribu-ribu hewan buat melayakkan kita bertemu dengan Tuhan. Saat ini cukup satu darah yaitu Tuhan Yesus di kayu salib, sudah bisa melayakkan saya/kita menghampiri hadirat Tuhan.
  4. Respectful to God, meskipun sudah dimudahkan tidak lantas buat saya menggampangkan itu, saya tetap harus menjaga hidup saya layak untuk menghampiri Tuhan dengan berusaha hidup kudus dan berkenan datang di hadapan sang Raja.

Selayar, 15 Februari 2021

2 Tawarikh 2

2 Tawarikh 2:5-6
Dan rumah yang hendak kudirikan itu harus besar, sebab Allah kami lebih besar dari segala allah. Tetapi siapa yang mampu mendirikan suatu rumah bagi Dia, sedangkan langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Dia? Dan siapakah aku ini, sehingga aku hendak mendirikan suatu rumah bagi Dia, kecuali sebagai tempat untuk membakar korban di hadapan-Nya?

Dalam bacaan ini, dimulailah Salomo untuk menjalankan warisan ayahnya, yakni membangunkan rumah buat Allah, dan pada permulaannya Salomo berhikmat kalau bahan yang dibutuhkan masih kurang, itulah kenapa ia malakukan kerjasama bilateral dengan kerajaan Tirus di Lebanon dimana mereka menyiapkan pekerja dan seorang ahli, sedangkan Salomo menyiapkan konsumsi buat mereka.

Hikmat yang luar biasa yah bagaimana ia memperlakukan pembangunan rumah Allah ini sebagai perkerjaan yang sangat serius, nggak boleh setengah-setengah sehingga ia butuh semua orang terampil dalam bidangnya karena ia sadar klu rumah ini buat pembakaran korban buat Tuhan. It’s must be perfect.

Dari saat teduh saya pagi ini saya belajar dari Salomo, untuk :

  1. Tidak menunda hal baik yang bisa saya kerjakan karena membangun rumah Tuhan yakni diri saya sendiri harus saya mulai dari saat ini juga.
  2. Saya harus membangun rumah Tuhan dengan begitu sempurna, tanpa cacat, kudus di hadirat Tuhan karena hidup saya adalah korban bakaran buat Tuhan yang harus bisa menyenangkanNya.
  3. Membangun rumah Tuhan yang lain dengan keterampilan/talenta yang saya miliki yakni brother dan sister saya karena semakin banyak korban bakaran yang sesuai kriteria Tuhan makan semakin bisa menyenangkan hatiNya.

Palopo, 11-02-2021

2 Tawarikh 1

2 Tawarikh 1:1
Salomo, anak Daud, menjadi kuat dalam kedudukannya sebagai raja; TUHAN, Allahnya, menyertai dia dan menjadikan kekuasaannya luar biasa besarnya.

Di buku 2 Tawarikh ini, mulai menceritakan perjalanan hidup seorang Salomo, yang dimulai dengan kalimat ini bahwa ia begitu kuat dalam kedudukannya sebagai raja karena Tuhan menyertai dia.

Apa yang membuat Tuhan begitu mengasihi Salomo?

2 Tawarikh 1:6
Salomo mempersembahkan korban di sana di hadapan TUHAN di atas mezbah tembaga yang di depan Kemah Pertemuan itu; ia mempersembahkan seribu korban bakaran di atasnya.

Yang pertama, karena ia melakukan persis seperti apa yang Daud wariskan kepadanya yaitu dengan penuh ketaatan menyembah Tuhan. Padahal as a king dia bisa aja berbalik dan melakukan banyak hal untuk dirinya sendiri

2 Tawarikh 1:9-10
Maka sekarang, ya TUHAN Allah, tunjukkanlah keteguhan janji-Mu kepada Daud, ayahku, sebab Engkaulah yang telah mengangkat aku menjadi raja atas suatu bangsa yang banyaknya seperti debu tanah. Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar ini?”

Yang kedua, ia mengerti kedudukannya di hadapan Tuhan walaupun sebagai raja suatu bangsa, ia tetaplah pekerjanya Tuhan, oleh karena itu ia hanya meminta satu hal kepada Tuhan yakni hikmat untuk memimpin dan menjaga bangsa pilihan Tuhan ini.

2 Tawarikh 1:12
maka kebijaksanaan dan pengertian itu diberikan kepadamu; selain itu Aku berikan kepadamu kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sebagaimana belum pernah ada pada raja-raja sebelum engkau dan tidak akan ada pada raja-raja sesudah engkau.”

Dan inilah yang Tuhan berikan kepada Salomo, bukan hanya sebatas apa yang ia minta itu, tapi bahkan semua yg ia akan butuhkan sebagai pekerjanya Tuhan, Tuhan lengkapi. Jadi ingat ayat Firman Tuhan di Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Dari saat teduh saya pagi ini, saya belajar dari Salomo untuk :

  1. Mengasihi Tuhan Yesus dengan penuh ketaatan sejati, tetap mau taat meskipun keadaan baik atau buruk menggoda saya untuk tidak memprioritaskan kesukaan Tuhan tapi kesenangan saya sendiri.
  2. Menjadi pekerjanya Tuhan sebagai cara yang tepat untuk mencari kerajaan Allah, yaitu selalu meminta hikmat dari Tuhan untuk bisa menempatkan diri dengan baik sebagai murid Tuhan untuk mengasihi dan menolong orang-orang di sekitar saya yang juga banga pilihan Tuhan untuk saya bisa memimpin/diteladani untuk lakukan yang kebenaran Tuhan.

Palopo, 10-02-2021
Be worker of God

1 Tawarikh 29

1 Tawarikh 29:3-5
Lagipula oleh karena cintaku kepada rumah Allahku, maka sebagai tambahan pada segala yang telah kusediakan bagi rumah kudus, aku dengan ini memberikan kepada rumah Allahku dari emas dan perak kepunyaanku sendiri tiga ribu talenta emas dari emas Ofir dan tujuh ribu talenta perak murni untuk menyalut dinding ruangan, yakni emas untuk barang-barang emas dan perak untuk barang-barang perak dan untuk segala yang dikerjakan oleh tukang-tukang. Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan persembahan kepada TUHAN?”

Menjelang kematian, Daud sadar bahwa meskipun persiapan rumah Tuhan sudah begitu banyak, tapi masih kurang karena ia sadar bahwa ini adalah rumah Tuhan bukan rumah buat sesuatu yang ada di dunia ini, bahkan langitpun tidak akan cukup menjadi tumpuan kakiNya. Oleh karena itu karena sudah tidak ada lagi yang ia bisa dapatkan dari luar (hasil perang & persembahan kerajaan lain), iapun memberikan apa yang ada padanya untuk Tuhan. Tidak sampai di situ, iapun mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Jadi ingat apa yang pak Jokowi lakukan dengan vaksin, ia memberikan contohan yang sama seperti yang Daud lakukan, yakni keteladanan untuk menjadi yang pertama melakukan apa yang menurut mereka benar. Bukan sekedar memerintah.

1 Tawarikh 29:9
Bangsa itu bersukacita karena kerelaan mereka masing-masing, sebab dengan tulus hati mereka memberikan persembahan sukarela kepada TUHAN; juga raja Daud sangat bersukacita.

Setelah memberikan sebagian besar dari apa yang mereka miliki, bukannya kekurangan, mereka malah bisa mendapatkan hal yang jauh lebih dari harta mereka yaitu sebuah rasa sukacita yang besar karena mereka bisa memberikan dengan tulus kepada Tuhan. Kok bisa sih?

1 Tawarikh 29:14
Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.

Hal itu ternyata karena mereka begitu bersyukur sama Tuhan dan tau kalau semua yang mereka miliki sampai Israel sebesar saat itu adalah semua karena Tuhan, bahkan apa yang pada saat itu mereka persembahkan buat Tuhan bukan sesuatu yang asalnya dari mereka melainkan emang pada awalnya merupakan milik Tuhan yang dipercayakan kepada mereka.

Dari saat teduh saya pagi ini saya belajar dari kisah terakhir raja Daud, untuk:

  1. Menjadi seorang leader yang bisa menjadi teladan dalam setiap perkataan dan tindakan saya, jika saya mau mengajak orang untuk melakukan yang benar sesuai Firman Tuhan, saya harus melakukannya terlebih dahulu. Demikian juga sebaliknya saat saya mulai terpikir untuk menghakimi orang, saya harus sadar akan dosa saya terlebih dahulu, agar rasa berhak menghakimi saya itu kembali ke Tuhan dan saya bisa mengasihi orang itu lagi.
  2. Mengembalikan semua yang saya miliki untuk Tuhan dengan tulus hati sebagai ucapan syukur akan Tuhan yang begitu baik buat hidup saya.
  3. Makin rendah hati karena saya sadar klu yang saya berikan buat Tuhan bukanlah sesuatu yang saya miliki, tapi memang pada awalnya itu kepunyaan/haknya Tuhan.

Palopo, 09-02-2021

1 Tawarikh 28

1 Tawarikh 28:2-3
Lalu berdirilah raja Daud dan berkata: “Dengarlah, hai saudara-saudaraku dan bangsaku! Aku bermaksud hendak mendirikan rumah perhentian untuk tabut perjanjian TUHAN dan untuk tumpuan kaki Allah kita; juga aku telah membuat persediaan untuk mendirikannya. Tetapi Allah telah berfirman kepadaku: Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah.

Setelah semua orang berkumpul dihadapan Daud, iapun menyampaikan impiannya kepada seluruh pembesar Israel akan Rumah Allah dan alasan kenapa bukan dia dan kenapa belum waktunya rumah Allah dibangun pada zamannya.
(Mungkin aja ada yg mulai bertanya kenapa belum juga dibangun padahal bahan bangunannya udah terkumpul sangat banyak)

Maka disinilah kesempatan Daud menjelaskan kepada segenap bangsa itu akan bagaimana Tuhan itu begitu kudus sehingga meskipun orang itu adalah raja Daud sekalipun yang begitu dikasihi Tuhan, tetapi karena tidak kudus (penuh darah) Tuhan tetap tidak berkenan untuk dibangunkan rumah dari tangannya.
Ada kekaguman yang luar biasa dalam diri Daud kepada Tuhan meskipun bukan dia yg mendapat privilage untuk membangunkan rumah buat Tuhan karena ia begitu dekat dengan Tuhan dan tau keadaannya di hadapan Tuhan.

1 Tawarikh 28:9
Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya.

Dan terkhusus buat anaknya Salomo, Daud tidak mengajarkan bagaimana cara menjadi pemimpin yang hebat buat bangsa yang besar itu, bagaimana harus menjaga kestabilan ekonominya, keamanannya, dll. Daud hanya menyampaikan satu hal yang jauh lebih penting yaitu Fondasi agar Salomo bisa mengenal Allah sebagaimana Daud mengenal Allahnya tapi bukan karena disuruh sama Daud. Tapi harus berasal dari hati Salomo sendiri yang dengan rela hati mencari Tuhan.

1 Tawarikh 28:19
Semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku oleh TUHAN, yang berisi petunjuk tentang segala pelaksanaan rencana itu.

Kirain selama ini Daud mengumpulkan semua persiapan pembangunan Rumah Tuhan berdasarkan inisiatifnya sendiri, menghitung lebar tinggi dan isinya berdasarkan pengetahuan dia sendiri, ternyata untuk hal inipun Daud lakukan berdasarkan atas ilham (petunjuk Tuhan yang timbul di hati) Tuhan. Begitu dekatnya Daud dengan Tuhan sampai apa yang Tuhan mau bs timbul keluar dari hati Daud.

Dari saat teduh saya hari ini saya belajar lagi dari Daud untuk :

  1. Menjaga kekudusan saya sebagai harga mati, karena mau sehebat apapun saya, mau seberhasil apapun saya (yang pastinya takan bs menyamai Daud) tetap tidak akan bisa berbuat sesuatu yang sekecil apapun untuk Tuhan jika saya hidup dengan keadaan yang najis/tidak kudus.
  2. Mengenal Tuhan jauh lebih penting daripada segala hikmat yang ada di dunia ini, karena terbukti dari apa yang Daud wariskan adalah hikmat buat menganal Allah bukan mengenal ilmu tentang cara menjadi raja yang baik. Karena jika saya mengenal Tuhan maka apapun yang saya kerjakan pasti akan berhasil karena saya bisa duplicate cara kerja Tuhan.
  3. Berusaha untuk semakin lapar akan Tuhan setiap hari, karena hal itu yang bisa bantu hati saya untuk merasakan ilham dari Tuhan / sensitif dengan apa yang Tuhan mau untuk saya lakukan.

Palopo, 08-02-2021

1 Tawarikh 27

Something about number 24

1 Tawarikh 27:1
Adapun orang Israel, inilah daftar para kepala puak, para panglima pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pengatur yang melayani raja dalam segala hal mengenai rombongan orang-orang yang bertugas dan libur, bulan demi bulan, sepanjang tahun. Setiap rombongan berjumlah dua puluh empat ribu orang.

Saat membaca bagian ini, saya malah kepikiran satu hal, kenapa semuanya serba “24” , bahkan pada pasal- pasal sebelumnya juga menceritakan bagaimana pembagian tugas orang Lewi juga dibagi ke dalam 24 hari, bukannya sebulan itu 30 hari yah?

So akhirnya saya mencari arti angka 24 itu, ternyata itu bermula dari bilangan dimana di sana dijelaskan klu ada korban keselamatan dari 24 kambing jantan (pasal 7:88) dan juga ada kematian karena tulah sejumlah 24 ribu jiwa (pasal 25:9). Kemudian di Wahyu 4:4 juga dijelaskan klu ada 24 tahta tua-tua yang memakai pakaian putih dan mahkota emas dikepalanya. Dan itulah yg melambangkan pemerintahan yang sempurna alias simbol keimaman. Dan mungkin hal itu jugalah yang sedang Daud terapkan di pemerintahannya.

Itu sih yang bs saya dapatkan, mungkin bisa kasih masukan jika hal yang saya dapatkan ini keliru? Just for my curious 😅

Ok kembali kelaptop!
1 Tawarikh 27:23-24
Daud tidak menghitung jumlah orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke bawah, sebab TUHAN telah menjanjikan untuk membuat orang Israel sebanyak bintang-bintang di langit. Memang Yoab, anak Zeruya, telah mulai menghitung, tetapi ia tidak menyelesaikannya, sebab oleh karena hal itu orang Israel tertimpa murka; dengan demikian jumlah mereka tidak dibukukan dalam kitab sejarah raja Daud.

Ini yang jadi salah satu alasan knp Tuhan sampai murka atas Israel di pasal 21 karena Daud menjadi lupa akan janji Tuhan (entah lupa atau ragu) sampai ia bisa digoda oleh kesombongannya dan malah menghitung jumlah bangsa Israel.
Akhirnya kali ini Daud melakukannya dengan benar.
Padahal sama-sama menghitung, yg membedakan adalah motivasi yang Daud miliki kemarin dengan hari ini, yg sebelumnya karena ingin melihat kekuatan bangsa ini sebagai hasil jasanya, sedangkan yg terjadi pada waktu ini adalah ia sedang menghitung orang-orang yang Tuhan sediakan untuk pekerjaan di rumah Tuhan dan pemerintahannya.

Dari saat teduh saya hari ini saya belajar :

  1. Jangan sampai lupa akan janji Tuhan apalagi ragu, karena itu bisa membuat sifat kedagingan saya keluar dan melihat hasil yang saya peroleh sampai hari ini, itu semua karena saya, bukan karena Tuhan yang sedang memproses janjiNya terjadi dalam hidup saya.
  2. Belajar dari pengalaman/kesalahan saya di masa lalu untuk tidak mengulangi hal yang bisa buat Tuhan tidak berkenan atas hidup saya, klu bisa malah saya harus belajar dari kesalahan orang lain. Saat ini saya belajar dari kesalahan Daud tentang kesombongannya, dan
  3. Saya harus belajar tegas untuk lakukan kebenaran di tempat saya bekerja walau itu perintah langsung dari atasan saya jika itu salah saya tidak boleh lakukan secara total, tanpa alasan pembenaran. Tidak seperti Yoab, yg walaupun sadar itu salah tapi tetap menjalankannya krn takut, mungkin dengan pembenaran klu dia tidak hitung semuanya.

Palopo, 06 Februari 2021

1 Tawarikh 23-26

1 Tawarikh 23:3-5
Lalu dihitunglah orang-orang Lewi, yang berumur tiga puluh tahun ke atas, dan jumlah orang-orang mereka, dihitung satu demi satu, ada tiga puluh delapan ribu orang. “Dari orang-orang ini dua puluh empat ribu orang harus mengawasi pekerjaan di rumah TUHAN; enam ribu orang harus menjadi pengatur dan hakim; empat ribu orang menjadi penunggu pintu gerbang; dan empat ribu orang menjadi pemuji TUHAN dengan alat-alat musik yang telah kubuat untuk melagukan puji-pujian,” kata Daud.

4 pasal dalam buku Tawarikh ini menurut saya merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan karena membahas satu hal yang sama yaitu pembagian tugas orang-orang Lewi dan penjabarannya secara detail dalam menjalankan bagian mereka untuk jadi pelayan di rumah Tuhan.

Kenapa harus orang Lewi? Karena itu yang dikehendaki Tuhan/Firman Tuhan.

Klu jadi keturunan orang Lewi, mungkin nggak sih bertanya knp mesti mereka? Iya mungkin jika itu saya yg disana, tapi buat orang Lewi, itu merupakan kehormatan yang sangat mulia untuk bisa melayani Tuhan. Bisa begitu dekat dengan Tuhan setiap saat yang orang lain tidak bisa lakukan. Dipilih Tuhan merupakan suatu anugrah yg tak terkira karena dari sekian banyak suku/manusia, hanya mereka yg dapat kesempatan itu.

Dari saat teduh saya pagi ini saya belajar :

  1. Leadership dari Daud yang sangat managerial dan begitu rinci mengatur pembagian-pembagian tugas orang Lewi, sayapun harus bisa menjadi pemimpin yang bisa mengarahkan diri saya sendiri tentunya dan juga orang untuk bekerja dengan baik sesuai porsi kita dalam pekerjaan-pekerjaan membangun rumah Tuhan / hidup kita masing-masing.
  2. Sadar akan karakter manusia yang butuh arahan akan tugas mereka, meskipun orang Lewi udah tau bagian mereka dalam melayani Tuhan turun temurun, tapi mereka tetap harus diarahkan oleh Daud akan bagian dan tugas mereka. Karena manusia daging saya gampang keluar jalur sehingga benar-benar butuh arahan dari Firman Tuhan dan orang lain/mentor.
  3. Untuk punya rasa bangga dipilih Tuhan sama seperti orang Lewi yang jadi bangsa pilihan untuk melayani Tuhan seumur hidup mereka dari pagi sampai malam. Sayapun harus belajar mengoreksi hati saya setiap saat untuk melihat hal ini sebagai suatu keuntungan/privilege bukan suatu beban apalagi rutinitas.

Palopo, 05-02-2021