Matius 28

Matius 28:2-4
Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. Dan PENJAGA-PENJAGA itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati.

Matius 28:11-15
Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari PENJAGA itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada IMAM-IMAM KEPALA. Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada SERDADU-SERDADU itu dan berkata: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.” Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.

Bacaan saya kali ini menceritakan peristiwa setelah penyaliban dan kebangkitan Tuhan Yesus, kenapa saya membold kata penjaga/serdadu dan imam kepala?

Karena saya tidak habis pikir, yang pertama, apakah peristiwa tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadinya gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah tidak disaksikan langsung oleh mereka atau tidak terdengar oleh mereka sehingga imam-imam kepala tetap mengupayakan sesuatu hal sehingga peristiwa kebangkitan Tuhan tetap tertutupi.

(Apakah ini karena DENGKI (baca Matius 27:18) sehingga membuat hati mereka tertutup bahkan sekalipun oleh mukjizat sedasyat itu!)

Trus yang kedua, buat si penjaga ini, apakah sejumlah besar uang dan rasa aman dari ancaman manusia masih jauh lebih berharga daripada melihat malaikat secara langsung?

(Bagaiamana dengan saya hari ini? Adakah mendengki kepada orang lain! Adakah relasi dengan Tuhan secara pribadi masih bisa saya gantikan dengan materi dan rasa aman akan dunia!)

Matius 28:8
Mereka segera pergi dari kubur itu, DENGAN TAKUT DAN DENGAN SUKACITA YANG BESAR dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.

Dari Firman Tuhan ini saya :

  1. Harus memastikan hati saya kepada setiap orang, jangan sampai saya menimbulkan rasa dengki dalam hati saya saat berelasi dengan orang lain, karena hal itu bisa buat saya benar-benar memblock hal-hal baik dan luar biasa yang sebenarnya dapat orang itu lakukan buat saya.
  2. Harus memastikan prioritas saya, apakah benar-benar relasi saya dengan Tuhan ataukan dunia (mamon) dan segala rasa amannya. Jangan sampai mulut dan jari2 saya tertutup untuk menceritakan kebenaran hanya krn tawaran dunia.
  3. Membutuhkan berapa banyak mukjizat/penyertaan Tuhan yang bisa membuat saya terus berbalik sama Tuhan, jika hati saya ok, harusnya hanya butuh 1, yaitu salib Tuhan
  4. Belajar melihat dan mencari Tuhan dengan hati yang penuh rasa takut sekaligus merasa bersukacita di saat yang bersamaan karena tau apa yang Tuhan telah/dapat lakukan dalam hidup saya.

Palopo, 31-05-2020
Have a deep relationship with God.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *