1 Tawarikh 13

Bagian ini menceritakan “proses” bagaimana tabut Tuhan dibawa kembali ke kota Yerusalem

1 Tawarikh 13:2-3
Berkatalah Daud kepada seluruh jemaah Israel: “Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah kita, baiklah kita menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih tinggal di daerah-daerah orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan orang-orang Lewi yang ada di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan mereka, supaya mereka berkumpul kepada kita. Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya.”

Hal yang hebat dari Daud, sekali lagi bukan karena pribadinya sangat pintar atau lihai, tapi karena kerendahan hatinya sebagai seorang raja yang mau mendengar masukan dari bawahannya/rakyatnya, dan tentunya petunjuk dari Tuhan.
Padahal dia bisa saja langsung memerintahkan untuk melakukan ini dan itu secara langsung “like a king”.

1 Tawarikh 13:9-12
Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Kidon, maka Uza mengulurkan tangannya memegang tabut itu, karena lembu-lembu itu tergelincir. Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Ia membunuh dia oleh karena Uza telah mengulurkan tangannya kepada tabut itu; ia mati di sana di hadapan Allah. Daud menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang. Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada Allah, lalu katanya: “Bagaimanakah aku dapat membawa tabut Allah itu ke tempatku?”

Ngeri banget yah, Uza kan hanya bermaksud baik supaya tabut itu nggak jatuh, kenapa Tuhan langsung membunuh dia? Sekilas berasa betapa menakutkannya Tuhan.
Tapi berbeda klu saya tau gimana sifat Tuhan. Saya jadi mengerti kenapa hal itu bisa terjadi “karena Tuhan Kudus dan Uza tidak kudus” and itulah efeknya jika ia memaksakan dirinya menyentuh yg kudus dalam keadaanya yg belum dikuduskan. (Bayangin aja pegang kabel listrik tanpa pengaman)
Dari kejadian itu mungkin Daud jadi sadar dan jadi takut krn iapun sama seperti Uza akhirnya ia berhenti membawa tabut itu.

Tapi selain krn ketidak kudusan Uza itu, satu hal yang paling berpengaruh krn baik Uza maupun Daud, tidak melakukan Firman Tuhan (yang boleh membawa tabut hanya orang Lewi).

So meskipun Uza dan Daud punya maksud baik, tapi tidak berdasarkan Firman, itu juga salah dimata Tuhan.
(Mirip kisah robin hood)

Dari saat teduh saya pagi ini saya belajar :

  1. Untuk terus belajar punya kerendahan hati seperti Daud, dan membuang “rasa berhak” saya. Dan mau lakukan yang terbaik menurut yang Tuhan mau.
  2. Baik/maksud baik saja tidak cukup, baik tapi tidak sesuai dengan Firman Tuhan berarti tidak baik dimata Tuhan n pasti menimbulkan konsekwensi. So saya harus tau Firman Tuhan dulu dan lakukan sesuai itu, nggak ada pengecualian.
  3. Pentingnya saya terus mengupayakan kekudusan, jika saya datang/kembali kepada Tuhan dalam keadaan saya yg nggak kudus, pasti saya mati seperti Uza. Nggak ada tawar menawar tentang itu, sudah harga mati.

Palopo, 27-01-2021
Have a great Wednesday 💪🏻💪🏻
Be holy and doing words of God

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *