Matius 13

Matius 13:19-23
Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak MENGERTINYA, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak BERAKAR dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”

Bagian ayat ini sudah sangat sering saya baca dan dengarkan, dan dulu saya melihat ayat ini sebagai suatu keadaan dimana ada 4 orang yang berbeda-beda dalam penerimaan Firman Tuhan, dan saya harus kaitkan dengan diri saya, saya adalah orang yg mana? yg pertama yg dirampas kebenarannya atau orang yang terakhir yg bisa berbuah banyak!

Tapi kemudian setelah saya membaca ini bolak balik, saya malah berpikir klu ini bukan tentang 4 orang yang berbeda yg menggsmbarkan karakter saya dalam penerimaan Firman Tuhan tapi ini adalah sebuah proses yang benar dalam saya mengerti maksud Tuhan.
Saya tidak akan bisa menjadi pribadi nomor 4 tanpa terlebih dahulu survive di tahapan 1 sampai dengan 3.

Jadi dari ayat ini saya bisa mengerti apa yang harus saya lakukan dalam proses saya mau berbuah :

  1. Mendengar kemudian mengerti, saya tidak hanya harus punya waktu untuk mendengar firman Tuhan setiap hari, tapi juga harus bs mengerti apa yg saya baca itu, apa maksudNya. Setiap kali saya membaca saya bisa makin mengerti sosok Tuhan dan diri saya.
  2. Mengerti kemudian berakar, saat saya bisa mengerti Fiman Tuhan, apakah saya makin bisa mengandalkan Firman Tuhan layaknya akar yg mencekram ketanah, saya harus bisa mecari keyakinan yg makin dalam tentang alasan saya percaya sama Tuhan.
  3. Berakar kemudian tahan uji, saya tidak akan bisa dikatakan percaya jika hidup saya selalu berjalan dengan baik-baik saja, sebagaimana Bapa mengijinkan Tuhan Yesus untuk dicobai, demikian juga saya harus mengalami pencobaan dl baru bisa makin berakar, makin tahan uji, makin mengerti kasih Tuhan.
  4. Tahan uji kemudian berbuah. Dan inilah hasil akhirnya yg Tuhan janjikan yaitu saya bisa berbuah baik karakter saya ketika saya bisa mengenal diri saya sendiri trus mau berubah karena tau Tuhan mau saya lakukan itu. Maupun buah eksternal saya yaitu mengasihi orang lain. Yang pasti kita dirancang untuk tidak memiliki buah yg sama antara satu dengan yg lain, bisa aja saya yg seratus kali lipat or hanya yg 30 kali lipat saja.
  5. Jadi saat saya mau menjalani hidup murid saya dengan segenap hati, harusnya membuat saya bisa siap dan mau menjalani proses ini.

Palopo, 13-05-2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.