Matius 7

Matius 7:1-2
Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Matius 7:6
Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.

Saat membaca 2 bagian ayat ini berulang-ulang kali saya jadi sadar bahwa bukan hanya masalah penghakiman atau bagaimana saya memberi yang Tuhan sedang tegur, tapi saya jadi sadar klu diayat ini Tuhan sedang menjelaskan bagaimana saya dimata pencipta saya, saya ini diciptakan bukan dalam kapasitas untuk melakukan kedua hal itu dengan baik. Mau bagaimanapun saya berusaha untuk upgrade diri dengan kemampuan saya sendiri dalam melakukan kedua hal itu, saya tidak akan mampu dan bisa melakukannya dengan benar.

Trus apa yang harus saya lakukan…..?

Matius 7:7-8
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

Ayat ini bukan berbicara tentang meminta dan menemukan sesuatu secara material tapi saya belajar bahwa Tuhan sedang mengingatkan saya untuk meminta Hikmat yg asalnya dari Dia, saya harus mencari hikmat itu kepada Tuhan agar saya mendapatkan Hikmat, saya harus mengetok pintu hikmat itu agar Tuhan membukakan pintu hikmat itu.

Matius 7:12
Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.
Matius 7:16
Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
Matius 7:24
Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia SAMA DENGAN ORANG YANG BIJAKSANA, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Dan inilah yang Tuhan mau untuk saya perbuat setelah saya meminta hikmat itu, karena inilah hikmat dari Tuhan. Saya jangan fokus kepada orang lain tapi pada tindakan saya sendiri apa yang bisa saya lakukan untuk membuat orang lain merasa dikasihi, karena itulah juga yg orang akan perbuat kepada saya jika saya sedang mengharapkan saya untuk dikasihi. Begitu juga ketika saya melihat orang lain bukan dari bagaimana perawakan mereka ataupun first impressionnya saya kepada mereka tp dr buah-buah apa yang sedang mereka kerjakan/perjuangkan.

Dari saat teduh ini saya belajar :

  1. Makin sadar dengan bagaimana Tuhan menciptakan saya tidak untuk dalam kapasitas mengukur orang lain maupun diri saya sendiri berdasarkan cara pikir/hikmat saya sendiri.
  2. Setiap waktu datang kepada Tuhan untuk meminta/mencari/mengetok pintu hikmat itu dengan belajar takut akan Tuhan dan semakin bergantung pada pendengaran akan Firman Tuhan.
  3. Setelah tau yang benar, saya harus lakukan dengan cara itu, bukan lagi dengan menggunakan cara saya.

Palopo, 07-05-2020

Matius 6

Matius 6:4
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Matius 6:6
Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Matius 6:18
supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Pagi ini saya belajar dari tiga ayat di atas bagaimana pada ayat yg pertama Tuhan berbicara tentang bagaimana sikap saya saat berbagi ke orang lain, yang kedua tentang bagaimana saya dalam berdoa, dan yg ketiga tentang berpuasa.
Meskipun ketiganya merupakan tindakan yang berbeda, tapi hanya satu ukuran yang Tuhan pakai untuk melihat ketiga tindakan saya itu, yaitu

Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Apakah saya melakukan semuanya itu dengan tersembunyi atau dengan diketahui orang lain? Bukan berarti jangan sampai diketahui orang tapi lebih kepada motivasi saya dalam melakukan hal itu, apakah murni untuk menyenangkan hati Tuhan dan untuk membangun hubungan pribadi saya dengan Tuhan atau hanya untuk supaya diketahui orang lain bahwa saya seorang yang religius/sangat taat beragama. Saat saya lakukan itu, upah saya sudah dibayar oleh manusia, tidak ada lagi upah saya di Sorga/dari Tuhan.

Matius 6:19-21
Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Tuhan memperingatkan saya dari ayat ini klu inilah karakter upah yang tersedia bagi saya, pilihannya kembali lagi kesaya apakah saya fokus pada apa yang bisa saya dapat dari dunia, fokus pada respon orang, haus akan pengakuan, pujian, sanjungan, dll. Semuanya itu tidak akan awet, bisa rusak dan dicuri alias berubah dalam seketika menjadi respon yang sebaliknya seperti pikiran jahat, makian, hujatan, dll. Atau saya mau memilih balasan dari Tuhan, yg meskipun saat ini saya belum bisa rasakan secara langsung tp disana upah itu tidak akan pernah habis dan tidak akan berubah.

“He is no fool who gives what he cannot keep to gain which he cannot lose” JB

Dari saat teduh ini saya belajar :

  1. Membangun hubungan saya dengan Tuhan secara personal, bukan karena dorongan dari luar tapi dari dalam hati saya yang tersembunyi.
  2. Menjadi lebih bijak dalam memilih upah yang harusnya saya perjuangkan, bukan pengakuan/pujian dari orang lain tapi pujian dari Tuhan.
  3. Percaya akan pemeliharaan Tuhan bagaimanapun dan seperti apapun keadaan yang saya alami saat ini, karena itulah yg menjadikan saya sebagai orang yang benar-benar percaya padaNya.

Palopo, 06-05-2020

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Matius 5

Matius 5:2-12
Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: “Berbahagialah orang yang MISKIN DI HADAPAN ALLAH, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang BERDUKACITA, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang LEMAH LEMBUT, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang LAPAR DAN HAUS AKAN KEBENARAN, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang MURAH HATINYA, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang SUCI HATINYA, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang MEMBAWA DAMAI, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang DIANIAYA OLEH SEBAB KEBENARAN, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Secara pribadi sya banyak ditegur dari khotbah pak Harlem minggu kemarin pas membawakan bagian ayat ini, jujur membuat pemahaman saya berubah, yang semula saya bepikir klu ayat ini berbicara tentang keadaan fisik atau eksternalnya saya, seperti miskin secara materi, lemah lembut secara pembawaan, dll. Tapi setelah belajar kembali saya jadi tau klu ternyata semua ucapan bahagia ini fokus nya pada keadaan internal saya yaitu hati saya.

Apakah saya punya hati yang bisa merasa miskin di hadapan Allah?
Ketika saya merasa miskin dihadapan seseorang berarti saat yang sama saya menganggap orang itu kaya dihadapan saya. Demikian halnya dengan Tuhan, saat saya bisa benar-benar menempatkan hati saya diposisi miskin/kekurangan/tidak mampu dihadapan Tuhan, maka saat itulah harusnya membuat saya makin bergantung pada Tuhan dan bisa melihat bahwa segala sesuatu yang saya butuhkan ada pada Tuhan.

Apakah saya punya hati yang berdukacita? Bukan karena dukacita karena kehilangan seseorang yang saya kasihi, tapi lebih karena kehilangan koneksi saya dengan Tuhan karena begitu rusaknya saya dengan dosa-dosa yang sudah saya lakukan dan mengecewakan Tuhan yang membuat saya hancur hati.

Apakah saya punya hati yang lemah lembut? Bukan fisikly yg lemah lembut, tapi lebih kepada hati saya yang mau tunduk pada Tuhan, saya menomor duakan prinsip hidup saya demi ikuti apa yang Tuhan mau, Tuhan senangi.

Apakah hati saya menjadi lapar dan haus akan kebenaran ? Lapar dan haus artinya saya punya ketergantungan lebih akan setiap Firman Tuhan, be addicted with truth of God, tanpa disuruh dan ditegorpun saya harus selalu mencari kebenaran itu.

Dari saat teduh saya kali ini, saya makin bisa melihat bagaimana Tuhan sangat ingin menyampaikan klu hal yang paling bisa membut saya benar-benar Joyful didalam Dia adalah dengan menjaga dan menepatkan hati saya dikeadaan yang semestinya yaitu hati berisikan Kebenaran Tuhan.

Palopo, 05 – 05 – 2020

Matius 4

Matius 4:1-3
Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”

Setelah Tuhan Yesus dibaptis, maka Roh Allah membawaNya kepadang gurun untuk dicobai. Dengan “sengaja” Allah membawa/menyerahkan anakNya ke tempat pencobaan. Untuk apa? Emang harus yah kayak gitu? Kenapa harus lewat proses itu?

Saya melihat bahwa hal ini Tuhan tuliskan untuk menunjukkan kepada saya dan kamu bahwa pencobaan itu merupakan bagian penting dalam kehidupan saya sebagai seseorang yang mau hidup sebagaimana Tuhan Yesus hidup. Jadi ketika saya memutuskan untuk jadi muridNya, pencobaan harusnya bukan lagi menjadi hal yang membuat saya mempertanyakan kasih Tuhan. Kenapa saya dicobai! Tuhan saja dengan sengaja dibawa untuk dicobai, justru menjadi suatu kebanggaan kelau sayapun dibawa untuk dicobai, artinya Bapa memperlakukan saya sama dengan Tuhan Yesus.

Dari Firman Tuhan inipun saya jadi mengerti bagaimana Tuhan memang tidak pernah mencobai saya, hanya iblislah yang melakukan itu, iblis merupakan tools yang Tuhan pakai untuk menguji iman percaya saya. Jadi saat pencobaan itu datang, itu dikerjakan oleh iblis, yang dengan sengaja Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan saya. Ini membuat saya yakin bahwa Bapa berkuasa/berdaulat atas pencobaan. Demikian halnya dengan situasi saat ini dimana saya percaya bahwa Pandemi covid-19 pun Tuhan izinkan datang dalam hidup saya dan semua orang untuk tujuan yang baik untuk semakin memurnikan iman percaya saya. Untuk semakin membuat saya melihat siapa tuannya “who is my master”, dan membuat saya menjadi semakin bergantung padaNya

Dari saat teduh ini saya belajar :

  1. Bersyukur ketika saya jatuh dalam pencobaan karena Bapa memperlakukan saya sama dengan Ia memperlakukan Tuhan Yesus.
  2. Bahwa Tuhan itu berkuasa/memegang kendali atas setiap pencobaan yang dikerjakan oleh iblis dalam hidup saya
  3. Pencobaan itu baik untuk membuat iman saya makin murni dimata Tuhan.
  4. Terus menjaga hati saya, agar saat pencobaan itu datang sya tetap memiliki respon/kesadaran seperti pada 3 point di atas.

Palopo, 04 Mei 2020
Heve a good day