Matius 25

Matius 25:13
Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.

Kembali diingatkan untuk berjaga-jaga krn waktu bukan saya yang atur tapi Tuhan, layaknya minyak dan pelita ini, sayapun harusnya berjaga-jaga bukan dengan tidak lakukan apa-apa, tapi mempersiapkan segala sesuatu yang bisa membantu saya bertahan melewati waktu-waktu yang jahat yang bisa memadamkan api iman saya, sebelum waktu yang dijanjikan Tuhan datang.

Matius 25:15
Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

Bukannya tuan ini tidak adil kepada tiga orang ini, tapi bagian mereka masing-masing merupakan pinjaman berdasarkan kesanggupan dr mereka. Klu yg sanggup meminjam satu yah diberi satu, klu yg sanggup 2 yah diberi dua.
Lagian tuannya tidak menuntut mereka untuk bersaing mendapatkan yang paling banyak, tuannya hanya ingin harta yang dipinjamkannya ini dikembalikan beserta bunganya alias ada keuntungan. Tidak harus 2 kali lipat. Klu kyk MLM cukup 1 orang merekrut 1 orang. Lagian baik yg 1, 2, dan 5 punya nilai yang sama dimata tuannya, sama-sama perkara kecil.

Matius 25:27
Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.

Dari saat teduh saya malam ini saya diingatkan lg :

  1. Untuk selalu terjaga, selalu mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin klu hari ini adalah hari kedatangan Tuhan, bukan besok. Lakukan yang terbaik hari ini seolah-olah ini kesempatan terakhir saya untuk bertobat dan melayakkan diri bertemu Tuhan yang kudus.
  2. Mengupayakan pertumbuhan iman dan karakter saya setiap hari, meskipun nggak sebaik orang lain, setidaknya ada progres yang bisa saya pertanggungjawabkan ketika tiba-tiba saya dipanggil pulang, jangan menunggu dan berandai-andai, tapi saya harus lakukan hr ini jg.
  3. Saat saya tidak mampu melakukannya sendiri, saya bisa dan harus minta tolong orang lain untuk memaksimalkan apa yang saya punya, artinya saya harus mau untuk saling mensupport satu dengan yang lain agar bisa sama-sama bertumbuh/cari partner bertumbuh.

Palopo, 26-05-2020

Hidup tidak akan berulang, lakukan yg terbaik hari ini layaknya kesempatan terakhir untuk menyenangkan Tuhan.

Matius 24

Matius 24:12-14
Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.

Bagian saat teduh saya kali ini banyak bercerita tentang ciri-ciri kesudahan dunia, jadi tau kelau meskipun perang besar seperti yang banyak diberitakan belakangan ini atau mungkin pandemi virus covid 19 bukanlah pertanda kesudahan dunia.
Tapi satu hal yang perlu saya waspadai setalah membaca ini adalah perubahan hati saya sendiri, bagaimana kondisi dunia memang akan perlahan membuat kasih setiap orang menjadi dingin, tidak hangat lg, himpitan masalah akan membuat setiap manusia menjadi egois dan memikirkan diri sendiri, dan bisa jadi sayapun tanpa sadar melakukan itu.

Matius 24:43-45
Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.

Dari saat teduh ini saya belajar :

  1. Don’t worry so much dengan keadaan dunia saat ini, ini belum akhirnya kok, waktu yang ada harus saya maksimalkan untuk makin melihat dan mencari, serta bergantung sama Tuhan.
  2. Untuk terus bertekun menjaga karakter dan hati saya tetap hangat/menjadi hangat kembali kepada setiap orang, jangan sampai kondisi sekitar saya mendinginkan hati saya, sebaliknya saya harus terus berusaha mempengaruhi sekitar saya dengan kasih yang saya punya.
  3. Dan berjaga-jaga, be awake, tetap terbangun dan sadar mengawasi diri saya dan sekitar saya karena waktu Tuhan datang/Tuhan panggil saya pulang saya tidak tau, bersyukur klu pas dipanggil saya lagi dalam kondisi tetap setia dengan pekerjaan-pekerjaan Allah.
  4. Tetap bersetia lakukan bagian saya sebagai murid Tuhan, tinggal dalam Firman, mengasihi, dan berbuah.

Palopo, 25-05-2020

Matius 23

Matius 23:13-30
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik

  1. karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.
  2. sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.
  3. sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.
  4. sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
  5. sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.
  6. sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.
  7. sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu.

Dari saat teduh ini saya belajar dan diingatkan untuk melakukan beberapa hal yang bisa menjaga saya dari hidup seorang yang munafik di mata Tuhan yaitu :

  1. Tidak hanya sebatas tau kebenaran tp lakukan terlebih dahulu sebelum mengajarkan kepada orang lain, jika tidak saya bisa jadi batu sandungan buat orang itu yg melihat hidup saya..
  2. Lakukan karena Tuhan, bukan karena orang lain. Baik saat berdoa maupun saat saya pergi mengasihi orang.
  3. Melakukan semua Firman Tuhan tanpa terkecuali.
  4. Menjaga hati saya jauh lebih penting dr pada apa yang terlihat di luar, yaitu dengan menjaga hubungan personal saya dengan Tuhan.
  5. Kurangi beradai-andai, tapi lakukan semaksimal mungkin apa yang bisa saya lakukan saat ini.

Palopo, 24-05-2020

Matius 22

Matius 22:10-14
Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Sekali lagi Tuhan Yesus memberitakan tentang kerajaan Allah dalam perumpamaan seorang raja yg melakukan perjamuan kawin buat anaknya dan mengundang para tamu undangan. Tetapi orang yang diundang ini malah nggak datang, sedih dong yah klu ngundang tapi orangnya malah nggak dateng.
Saat baca ini saya kembali terpikir akan orang-orang Israellah yang mendapat hak khusus menjadi tamu yang secara special diundang oleh raja yang punya acara.

Ketika mereka tidak menanggapi hak khusus tersebut, akhirnya merekapun menjadi tak layak lagi akan hak itu (ayat 8), sehingga hak itu dialihkan ke setiap orang. Termasuk saya juga yang bukanlah keturunan Israel ini.

Meskipun begitu di ayat 12, saya belajar klu sayapun tidak boleh masuk dengan begitu saja, saya harus mempersiapkan pakaian pesta, berpakaian sama seperti orang di dalam pesta itu, it means, berusaha membuat tuan rumah terkesan dengan kesiapan saya yaitu Tuhan.

Dari saat teduh ini saya belajar bahwa,

  1. Meskipun saya bukanlah keturuanan Israel, tapi sayapun akhirnya memperoleh hak yang sama untuk masuk ke kerajaan Allah.
  2. Untuk masuk ke sana, saya harus mempersiapkan diri dengan baik agar pakaian/cara hidup saya sama seperti orang-orang di dalam kerjaan Allah tersebut, yaitu berusaha hidup sama seperti Tuhan Yesus hidup yang adalah tuan rumah dari kerajaan Allah.
  3. Ke pesta aja malu jika tanpa pakaian pesta, apalagi ini ke Rumah Tuhan. Saya harus berusaha mempersiapkan diri menjadi murid pilihan, tidak hanya sebatas puas terpanggil jadi seorang murid.

Palopo, 23-05-2020

Matius 21

Matius 21:19
Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: “Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu.

Dari ayat ini saya belajar bagaimana pohon ara yang kelihatannya udah masuk musim buah, tapi Tuhan temukan tidak berbuah sama sekali, Tuhan buat pohon ara itu jadi kering.

Matius 21:31-32
Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”

Trus yang kedua tentang anak yang melakukan kehendak bapanya, dimana anak bungsunyalah yang melakukannya. Ia yang melakukan kehendak bapanya karena meskipun diawalnya tidak mau, kemudian muncul rasa penyesalan dan jadi kemudian berangkat mengerjakan kebun anggur ayahnya.

Dari kedua bagian ayat ini saya diingatkan kembali akan panggilan saya sebagai seorang murid Tuhan :

  1. Untuk jadi hamba Tuhan, bukan hanya pendeta saja, tapi saya pun punya tanggung jawab untuk mengajarkan/menginjili orang lain tentang Tuhan. Dari situlah Tuhan bisa melihat buah yang saya hasilkan dan bisa memetik dan tetap memlihara pohon hidup saya.
  2. Pertobatan setiap saat, karena bukan lagi masalah siapa yang punya hak sulung maupun yang bungsu, tapi apakah saya bisa menyesali sikap membangkang saya kepada Tuhan dan berbalik menyangkal diri untuk mengusahakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan.

Ibrani 5:12-14

Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

Palopo, 22-05-2020

Matius 20

Matius 20:29-34
Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!” Tetapi orang banyak itu menegor mereka supaya mereka diam. Namun mereka makin keras berseru, katanya: “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!” Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab mereka: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.” Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.

Ada dua orang buta yang mendengar Tuhan Yesus akan lewat di dekat mereka. Mereka dalam kondisi buta, berarti mereka tidak melihat bagaimana Tuhan itu.

Keadaan kedua orang ini sama seperti saya dan kamu jg hari ini yang hanya bisa mendengar tentang Tuhan tapi tidak bisa melihat bagaimana Tuhan itu.

Apa yang mereka lakukan? Berseru kepeda Tuhan.
Langsung terdengar/terjawab ? Tidak
Bahkan banyak orang yang menegur mereka untuk diam.
Trus mereka diam? Tidak, mereka tidak peduli dengan teguran orang banyak itu, mereka makin keras berseru, karena suara orang yang berteriak menegur mereka makin bising.

Bagaimana dengan saya?
Seruan saya selama ini apakah sama seperti seruan orang buta ini kepada Tuhan!
Suara seruan dari hati yang penuh rasa putus asa dan sangat berharap, last breath/last chance, klu sampai seruan mereka nggak didengar waktu itu, dan Tuhan lewat begitu saja, sudah tidak ada lg harapan buat mereka bisa sembuh.

Apakah keadaan sekitar saya baik bisa merubah hati saya dalam berseru kepada Tuhan? Jujur sangat bisa.
Makin lama seruan dalam doa saya tidak dijawab Tuhan bisa buat saya berpikir ulang untuk mendoakan yang sama.
Bagaimana respon orang yang saya doakan pun bisa mempengaruhi keyakinan saya dalam mendoakannya.

Tapi beda dengan keyakinan orang buta ini, mereka malah semakin keras, semakin bersungguh-sungguh berseru/berteriak sama Tuhan agar suara mereka bisa lebih keras dari kebisingan sekitar mereka, agar teriakan mereka bisa sampai ke telinga Tuhan.

Saya belajar dr kedua orang buta ini

  1. Untuk berseru/berteriak kepada Tuhan dengan sikap hati yang penuh rasa putus asa akan ketidakmampuan saya tanpa bantuan Tuhan, dan berharap pada Tuhan sebagai satu-satunya tempat dan kesempatan saya untuk sembuh dari cara hidup saya yang salah dan dosa-dosa saya.
  2. Makin banyak tekanan dan keadaan yang membuat saya putus harapan harusnya membuat saya makin keras berteriak sama Tuhan agar suara saya lebih kedengaran dari suara-suara yang lain yang pada akhirnya suara saya ini bisa sampai ketelinga Tuhan.
  3. Jaga kekudusan hidup saya dan terus berdoa,berseru kepada Tuhan. Karena hati Tuhan itu sangat mudah loh untuk tergerak oleh belas kasihan. Titik masalahnya adalah apakah suara saya bisa tersampaikan ke telinga Tuhan.

Palopo, 21-05-2020

Matius 19

Matius 19:8-9
Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”

Sekali lagi Tuhan dicobai oleh “orang” Farisi tentang perceraian, boleh atau tidak, bagi mereka hal itu boleh saja karena menurut mereka Musa pun mengizinkan hal tersebut. Padahal mereka tidak mengerti alasan Musa melakukan hal itu. Mereka mengamini sebagian kutipan firman Tuhan tanpa terlebih dahulu mengerti maksud dari keseluruhan Firman itu.
Justru karena ketegaran/kekerasan hati dari mereka sendirilah memaksa Musa melakukan tindakan itu alias udah nggak bisa dikasih tau yg bener lg.

How about me? Apakah saat ditegur pembimbing saya bisa paham dan langsung berbalik, atau tetap lakukan sampai orang lainpun jadi masa bodoh dan membiarkan apa yang saya lakukan itu.

Matius 19:23-24
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Sama seperti pelajaran ibadah 2 minggu kemarin tentang God vs Mammon, ayat ini lebih menagaskan lagi bahwa di mana hartamu berada di situ hati saya. Bukannya orang kaya mustahil masuk surga, hanya sukar/susah saja, karena Tuhan tau klu kuasa mammon itu susah ditaklukkan oleh kedagingan saya sebagai manusia.

Matius 19:30
Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

Ikut Tuhan itu bukan masalah siapa yg jadi murid paling awal, atau sudah jadi murid berapa tahun, tapi ikut Tuhan itu tentang siapa yg bisa tetap setia sampai waktu ya Tuhan bilang “engkau telah menyelesaikan perjalanan panjangmu” dan di situlah saya bisa memperoleh apa yang Tuhan janjikan.

Things to do:

  1. Saat saya baca Firman Tuhan, saya harus melihat keseluruhan dari maksud Tuhan karena jika saya salah mengerti, saat itupun saya sebenarnya lagi mencobai Tuhan
  2. Belajar untuk peka akan pengajaran yang benar, jangan sampai saya jadi orang yang tidak mampan ditegur lg.
  3. Belajar jadi bendahara uang yang baik, karena itu bisa bantu saya melihat apa yang saya miliki saat ini hanya sebagai titipan sehingga hati sayapun tidak bergantung/fokus sama uang/mammon itu.
  4. Tetap setia sampai Tuhan memanggil saya kembali. Tetap rendah hati dan melihat bahwa Tuhanlah yang mengatur segala sesuatunya.

Palopo, 20-05-2020

Matius 17

Matius 17:17
Maka kata Yesus: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Pada bagian ini diceritakan bagaimana seseorang datang kepada Yesus untuk memohon kesembuhan bagi anaknya, tidak hanya itu, ternyata sebelum datang kepada Yesus, ia sudah terlebih dahulu datang kepada murid Tuhan dan mereka tidak berhasil menyembuhkannya. Dan ayat diatas adalah respon Tuhan terhadap mereka.

Apakah yang dimaksud angkatan yang tidak percaya disini adalah orang itu atau murid-murid Yesus?

Matius 17:20
Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

Memang orang itulah yang Tuhan maksud sebagai orang yang tidak percaya.
Tapi disaat yang sama, penyebab mukjizat kesembuhan itu tidak terjadi karena murid-murid yang menyembuhkan kurang percaya.
Jadi tidak ada perbedaan antara seorang yang tidak percaya dan kurang percaya.

Matius 17:27
Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka

Dari bacaan ini saya belajar :

  1. Hal-hal yang luar biasa terjadi bukan karena apa yang orang lain bisa lakukan buat hidup saya tapi diawali dari saya yang mau percaya.
  2. Percaya penuh sama Tuhan/tidak suam-suam kuku karena saat saya kurang percaya saat itu saya tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengenal Tuhan.
  3. Menjaga hidup dan tindakan sya agar jangan jadi batu sandungan/penghalang orang lain buat mau mengenal Tuhan.

Palopo, 17-05-2020

Matius 16

Matius 16:15-17
Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.

Matius 16:23-25
Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Melihat 2 bagian ayat diatas sangat kontras, padahal keduanya adalah respon dr 1 orang tentang Tuhan, yaitu respon dari Petrus yang merupakan murid paling dekat kepada Tuhan.
Petrus tau bahwa Yesus itu Tuhan tapi ia tidak mengerti apa yang akan Yesus lakukan sebagai Tuhan.

Sayapun sering ada dikeadaan yang sama seperti Petrus, saya memang percaya klu Yesus itu Tuhan dan Juruselamat saya, tapi kadang saya tidak membuka diri terhadap apa yang sanggup Tuhan kerjakan dalam hidup saya dengan kapasitasNya sebagai Tuhan. Saya memilih membatasi/menarik Yesus ke samping hidup saya daripada membiarkanNya melakukan apa yang sudah Dia siapkan untuk saya. Dalam keadaan inilah yang membuat saya menjadi orang yang tidak bisa berubah meskipun percaya Tuhan.

Dari saat teduh ini saya belajar lagi tentang:

  1. Tujuan saya membangun hubungan personal dengan Tuhan lewat belajar FirmanNya adalah untuk melatih hati dan pikiran saya condong/terhubung dengan apa yang dipikirkan Tuhan. Yang berarti makin menjauh dr pemikiran-pemikiran dasar saya sebagai manusia dan referensi dunia.
  2. Kerendahan hati untuk tidak membatasi/menarik Tuhan dari hidup saya, tapi mau mendorong diri saya untuk lakukan dan ikuti apa yang Tuhan ajarkan, baik lewat Firman Tuhan maupun pembimbingan.
  3. Perubahan hidup yang akan saya alami sangat tergantung pada seberapa terbukanya saya dengan Kuasa/tindakan Tuhan.

Palopo, 16-05-2020

Matius 15

Matius 15:22-28
Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”
Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Sempat berpikir dalam dengan jawaban Tuhan Yesus, bahwa Ia diutus hanya untuk domba Israel yang hilang. Trus bagaimana dengan saya yg bukan keturunan orang Israel!
Yang kedua, sayapun bertanya-tanya, emang tidak salah yah Tuhan memakai istilah yang kasar seperti “anjing” untuk menunjukan posisi seorang perempuan Kanaan yang datang meminta belas kasihan!

Dari pertanyaan itu saya mulai baca beberapa referensi dan mendapati klu memang orang-orang Yahudi zaman itu menganggap orang-orang Kanaan lebih rendah dari mereka, dan menjuluki mereka sebagai “anjing”.
Dan saat itu sebenarnya Tuhan Yesus tidak menggunakan kata anjing yang biasa atau dalam artian kasar. Namun, Dia menggunakan suatu bentuk diminutivenya (tiruan yg dikecilkan) , yaitu: “KUNARION” yang menunjuk kepada anjing rumahan sebagai binatang kesayangan. Mungkin buat doggie lover bisa lebih relate lg dengan panggilan ini, kebetulan saya lebih ke cat lover sih?.
Jadi Tuhan Yesus menghilangkan sengatan dari panggilan itu dan perempuan itupun dapat merasakankannya.

Jadi Tuhan melakukan ini hanya untuk menguji iman perempuan tersebut. Dan ternyata respon dia “Yes it is, Lord,” she said. “Even the dogs eat the crumbs that fall from their master’s table.”

Trus bagaimana dengan saya yg bukan keturunan Israel seperti perempuan Kanaan ini punya porsi yang sama saat menantikam Tuhan Yesus, Ilustrasi yg saya dapat ini sangat bantu saya :
Seorang raja menyediakan makan malam bagi putra-putranya. Sementara mereka makan daging yang terhidang, raja ini memberikan tulang-tulang kepada anjing, tetapi karena putra-putranya tidak menyenangkan hati sang Raja, maka diberikannya daging yang terhidang kepada anjing-anjing.
Demikianlah ketika bangsa Israel melakukan kehendak Allah, mereka makan sehidangan di meja Allah dan pesta itu disediakan bagi mereka, serta sisa-sisa makanan diberikan kepada bangsa lain, tetapi saat mereka tidak melakukan kehendak Allah, maka pesta itu diberikan buat bangsa lain termasuk segala makanan yang ada.

Dari saat teduh ini saya belajar untuk :

  1. Tidak ragu akan kasih Tuhan, tidak peduli bagaimana latar belakang sya, asal usul saya dari mana, Kasih Karunia Tuhan juga berlaku bagi saya yang penting saya bisa lakukan kehendak Bapa diSorga
  2. Belajar untuk memiliki karakter seperti perempuan kanaan ini yang menerima julukan itu dan tidak menjadi tersinggung. Sayapun ketika ditegur dengan keras tidak lantas menjadi kepahitan yang buat saya kecewa dan meninggalkan Tuhan tapi harusnya membuat saya tetap datang kepada Tuhan dengan berani tetapi jg sadar akan posisi saya dan meminta dengan penuh kerendahan hati.

Palopo, 15-05-2020